Jumat, 23 Okt 2020 10:46 WIB

Tim Forensik Korsel Selidiki Kematian Usai Vaksin Flu, Ini Hasilnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
vaksin Tim forensik Korsel selidiki kematian warga usai suntik vaksin flu, ini hasilnya. (Foto ilustrasi: shutterstock)
Jakarta -

Tim forensik Korea Selatan tidak menemukan hubungan antara kematian seorang anak laki-laki berusia 17 tahun usai disuntik vaksin flu. Remaja berusia 17 tahun itu adalah warga Korsel yang pertama kali dilaporkan meninggal usai suntik vaksin flu.

Kantor berita Korsel, Yonhap, menyebut laporan kematian warga Korsel yang kini bertambah menjadi 25 orang memicu kekhawatiran di masyarakat. Jumlah korban yang meningkat selama seminggu terakhir, memicu panggilan dari dokter dan politisi untuk menghentikan program vaksinasi tersebut.

"Jumlah kematian telah meningkat, tetapi tim kami melihat kemungkinan kecil bahwa kematian terjadi akibat vaksin," kata Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), Jeong Eun-kyeong, kepada parlemen, dikutip dari Reuters.

Korea Selatan memesan vaksin flu ke-lima tahun ini untuk menangkal apa yang disebutnya "twindemic". Twindemic diartikan sebagai kemungkinan seseorang mengidap flu dan mengembangkan komplikasi virus Corona dan membebani fasilitas rumah sakit di musim dingin.

"Saya mengerti dan menyesal bahwa orang-orang khawatir tentang vaksin itu," kata Menteri Kesehatan Korea Selatan Park Neung-hoo, yang memastikan program gratis itu akan terus berjalan.

"Kami sedang mencari penyebabnya, tetapi akan kembali memeriksa secara menyeluruh seluruh proses yang melibatkan berbagai lembaga pemerintah, dari produksi hingga distribusi," lanjutnya.

Penyedia vaksin termasuk perusahaan domestik seperti GC Pharma, SK Bioscience, Korea Vaccine dan Boryung Biopharma, sebuah unit dari Boryung Pharm, bersama dengan Sanofi Prancis. Mereka menyediakan program gratis dan layanan berbayar yang bersama-sama bertujuan untuk memvaksinasi sekitar 30 juta dari populasi 52 juta.

Dari 25 korban tewas, 10 menerima produk dari SK Bioscience, masing-masing 5 dari Boryung dan GC Pharma, satu dari vaksin Korea dan empat dari Sanofi. Keempat perusahaan domestik tersebut menolak berkomentar, sementara Sanofi tidak segera membalas permintaan komentar.

Tidak jelas apakah ada vaksin yang dibuat di Korea Selatan yang diekspor, atau apakah yang dipasok oleh Sanofi juga digunakan di tempat lain. Tetapi Korea Selatan sekali lagi menegaskan dan meyakini tidak adanya kaitan antara meninggalnya warga Korsel dengan pemberian vaksin flu.



Simak Video "Kasus Bunuh Diri Anak Muda di Korsel Meningkat 2 Kali Lipat"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)