Selasa, 27 Okt 2020 12:52 WIB

WHO: Politisasi COVID-19 Rendahkan Martabat Peneliti dan Tenaga Kesehatan

Firdaus Anwar - detikHealth
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Director General of the World Health Organization (WHO), addresses a press conference about the update on COVID-19 at the World Health Organization headquarters in Geneva, Switzerland, Monday, Feb. 24, 2020. (Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP) Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebereyesus. (Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)
Jakarta -

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebereyesus, menyebut ada negara yang sengaja mempolitisasi wabah COVID-19. Hal ini menurutnya hanya akan menambah jumlah korban jiwa.

Dalam pidato pembukaan pertemuan media, Tedros mengatakan perbedaan kepentingan di tingkat nasional bisa menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Selain itu harga diri peneliti dan tenaga kesehatan juga kerap direndahkan karena kebijakan yang tidak sejalan.

"Saat para pemimpin bertindak dengan cepat dan yakin, virus ini bisa ditekan... Tapi saat ada perbedaan politik di tingkat nasional, ketika sains dan tenaga kesehatan direndahkan, maka yang terjadi adalah kebingungan serta angka kasus dan kematian yang tinggi," kata Tedros seperti dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (27/10/2020).

"Maka dari itu saya bilang berulang kali 'hentikan politisasi COVID-19'. Pandemi ini bukan pertandingan bola politik. Angan-angan dan pengalihan perhatian tidak akan mencegah atau menyelamatkan nyawa," lanjutnya.

Tedros mengingatkan agar para pemimpin negara memperhatikan pendapat dari para ilmuwan dan tenaga kesehatan dalam menghadapi pandemi COVID-19. Kebijakan harus didasari oleh ilmu pengetahuan agar wabah benar-benar bisa ditekan.

"Apa yang akan menyelamatkan nyawa adalah ilmu pengetahuan, solusi, dan solidaritas," pungkas Tedros.



Simak Video "Banyak Klaster COVID-19 Usai Aktivitas Publik Dibuka, WHO Beri Pesan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)