Senin, 16 Nov 2020 22:00 WIB

Ahli Jelaskan Mengapa Vaksin COVID-19 Bisa Dibuat dengan Cepat

Yudistira Imandiar - detikHealth
Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, Sp.A (K), M.Sc memberikan pemaparan mengenai keamanan vaksin dan menjawab mitos dengan fakta dalam dialog produktif di Jakarta, Senin, 16 November 2020. Foto: KPC PEN
Jakarta -

Penyediaan vaksin COVID-19 dalam waktu cepat menimbulkan polemik. Publik bertanya-tanya mengenai keamanan vaksin yang dipersiapkan dalam periode singkat.

Dalam diskusi 'Keamanan Vaksin dan Menjawab Mitos dengan Fakta' yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Prof Dr Cissy Kartasasmita menjelaskan, vaksin COVID-19 bisa cepat tersedia karena adanya dukungan teknologi dan ketersediaan dana. Teknologi memungkinkan vaksin dibuat dengan cepat, tanpa mengesampingkan keamanannya.

"Kenapa bisa cepat vaksin COVID-19, (padahal) dalam keadaan normal dilakukan lebih lama. Karena sekarang teknologi sudah maju, biaya ada, sehingga semua dilakukan paralel. Bahkan infrastrukturnya sudah mulai diadakan (lebih lengkap)," jelas Prof Cissy dikutip keterangan tertulis, Senin (16/11/2020).

Ia menjabarkan, dahulu pengembangan vaksin memang membutuhkan waktu 5 hingga 10 sebelum bisa diberikan kepada masyarakat luas. Sebab, vaksin harus melalui serangkaian tahapan untuk memperoleh jaminan keamanan dari lembaga kesehatan negara atau dunia.

"Kandidat vaksin, dilakukan dulu praklinis, disuntikkan kepada binatang. Tetapi ini tidak boleh sembarangan menyuntikkan pada binatang," ulas Prof Cissy.

Setelah dipastikan tidak ada efek samping pada hewan, tahapan pengujian masuk pada fase I yang melibatkan 20-100 relawan. Jika dinyatakan aman, berlanjut ke fase II dengan 40 -1.000 relawan untuk melihat efektivitasnya pada lebih banyak orang.

"Kemudian dilakukan fase III, dicek keamanan pada jumlah yang lebih banyak. Apakah ada efek samping yang ketemu kalau jumlah yang disuntikan banyak. Jumlahnya sampai puluhan ribu untuk relawannya," imbuh Prof Cissy.

Ia menegaskan pemerintah dan lembaga terkait akan terus mengawasi dan mengevaluasi efektivitas ketika vaksinasi sudah dilakukan.

Sementara itu, mengenai vaksin COVID-19 yang telah diuji coba pada ratusan relawan di Indonesia, dia mengatakan tidak ditemukan efek samping berat dari penyuntikan vaksin tersebut.

Sebagai informasi vaksin COVID-19 yang jumlahnya masih terbatas akan diberikan terlebih dahulu pada orang-orang yang bertugas di garda terdepan seperti tenaga kesehatan dan kepolisian.

(ega/ega)