Minggu, 22 Nov 2020 18:40 WIB

Terpopuler: Hasil Tes COVID-19 Erykah Badu Hidung Kiri Positif, Kanan Negatif

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
MADRID, SPAIN - JULY 17:  Singer Erykah Badu performs on stage at Theater Circo Price on July 17, 2012 in Madrid, Spain.  (Photo by Carlos Alvarez/Getty Images) Hasil tes Erykah Badu yang berbeda di hidung kanan dan kiri. (Foto: Getty Images/Carlos Alvarez)
Jakarta -

Penyanyi Amerika Serikat Erykah Badu dinyatakan positif COVID-19 usai melakukan tes swab. Tetapi, hasil tes dari lubang hidung kanan dan kirinya berbeda.

"Tidak ada gejala. Sudah diuji COVID-19, dengan mesin yang sama. Lubang hidung kiri positif, lubang hidung kanan negatif," tulis Badu yang dikutip dari laman Billboard, beberapa waktu lalu.

"Lucunya, dokter hanya melaporkan hasil yang positif saja. Apa yang terjadi di sini," lanjutnya.

Apakah fenomena ini umum terjadi?

Dokter spesialis patologi klinik dari RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr Thyrza Laudamy Darmadi, SpPK, mengatakan fenomena tersebut tidak umum terjadi. Ini karena biasanya hasil tes COVID-19 akan menggabungkan hasil swab dari hidung kiri dan kanan dalam satu media.

"Saya nggak pernah nemu yang kayak gitu karena biasanya kalau di kita itu, ya kalau ngambil swab hidung itu, pasti hidung kanan dan hidung kiri, dijadikan satu media," kata dr Thyrza saat ditemui detikcom di RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya.

"Nggak pernah hidung kanan diperiksa satu media sendiri, hidung kiri di media sendiri, nggak ada. Jadi biasanya hidung kanan dan kiri dijadikan satu di dalam satu media, dan satu media itu yang kita periksa. Jadi termasuk dalam satu sampel," lanjutnya.

Bagaimana fenomena seperti ini bisa terjadi?

"Kalau menurut saya, bisa terjadi seperti itu bisa saja yang negatif itu memang tidak tercolek saja, memang tidak terkena saja gitu teknik pengambilan swab-nya," jelas dr Thyrza.

dr Thyrza mengatakan, jika pengambilan sampel swab dilakukan dengan benar fenomena seperti yang dialami Erykah tidak akan terjadi.

"Sebenarnya sih, kalau pengambilan yang benar, itu nggak masalah mau dari kanan dari kiri itu pasti dia akan ketemunya di ujung di pojok itu di satu posisi yang sama, gitu. Jadi jangan salah, bukan di lubang hidungnya, kita tuh swab bukan di lubang hidungnya, tapi di nasofaring. Nasofaring itu adalah di bagian yang ujung," imbuhnya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hasil tes COVID-19 tidak konsisten. Klik halaman berikut untuk melanjutkan.

Apa ada hal lain yang menyebabkan perbedaan hasil tes Corona?

Umumnya, sampel pada hidung kanan atau kiri pada dasarnya sama karena berpangkal pada saluran yang sama. Tapi bisa saja ada hal lain yang menyebabkannya mengalami perbedaan hasil, meski tes dilakukan untuk kedua kalinya di tempat yang sama. Berikut beberapa hal tersebut yang dijelaskan oleh dr Thyrza:

1. Teknik pengambilan sampel

"Teknik pengambilan sampel ini kan juga menentukan hasil kan, jadi colekan nya istilahnya, colekan nya gimana pas dapet nggak si virus, itu kalau dia pada saat swab itu dia nggak kecolek, nggak dapet, udah otomatis dia pasti yang diperiksa juga nggak ketemu benda nya," ujar dr Thyrza.

2. Rentang waktu tes

Saat melakukan tes PCR, rentang waktu saat melakukannya juga diperlukan. Tes ini akan lebih efektif jika digunakan pada awal terinfeksi sampai hari ke-7. Ini karena di minggu awal, antibodi belum terbentuk.

"Pada saat terinfeksi, ketika melakukan pemeriksaan sudah berapa lama, kalau dia sudah lama, otomatis PCR-nya negatif," jelasnya.

3. Jumlah sampel yang diambil

Sampel tes akan diambil melalui dua jalur, yaitu hidung dan tenggorokan. Pengambilan sampel pada dua area ini untuk meningkatkan positivity rate.

"Jadi semakin banyak sampel yang diambil, jadi semakin meningkatkan positivity-nya gitu," jelas dr Thyrza.

"Ada penelitian juga yang mengatakan bahwa memang jika dibandingkan dengan antara naso hidung dan mulut, ketika harus milih salah satu itu lebih baik yang diambil adalah yang hidung karena hidung itu positif nya lebih tinggi dibandingkan yang dari orofaring, dari tenggorokan," pungkasnya.

4. Limit of detection (LOD) alat PCR

Alat PCR juga memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda-beda. Ada LOD (limit of detection) yang bisa menentukan kemampuan alat PCR untuk mendeteksi jumlah virus. Jika semakin rendah jumlah virus yang terdeteksi, alat tersebut semakin sensitif.

5. Kemampuan mendeteksi gen

Alat PCR juga memiliki kemampuan mendeteksi gen yang berbeda-beda. dr Thyrza mengatakan bahwa virus Corona memiliki beberapa materi genetik seperti gen E, N, RdRp, orf1ab, N2, dan S.

Untuk menghindari hasil tes yang berbeda, dr Thyrza menyarankan agar melakukan tes di tempat yang sama.

"Pada pasien yang isolasi mandiri itu pada saat dia terdeteksi covid, dia positif itu kan, kemudian dia isolasi mandiri harus apa namanya misalnya follow up, lebih baik memang di rumah sakit yang sama gitu, dengan alat dan gen yang sama, supaya tidak menimbulkan kebingungan dan kerancuan," jawab dr Thyrza.



Simak Video "Korea Selatan Lakukan Tes COVID-19 pada Hewan"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)