Senin, 23 Nov 2020 17:16 WIB

Libur Akhir Tahun Dikurangi? Risiko COVID-19 Tetap Tinggi Saat Pilkada

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sejumlah pengunjung memadati kawasan Pantai Padang, Sumatera Barat, Minggu (1/11/2020). Masa libur panjang dimanfaatkan warga Padang dan sekitarnya untuk berwisata dengan mengunjungi Pantai Padang. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww. Meski libur panjang dikurangi, risiko COVID-19 tetap tinggi saat pilkada. (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta -

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meminta libur panjang di akhir tahun dipotong. Belajar dari pengalaman, klaster baru Corona yang sering muncul seusai liburan panjang di beberapa waktu lalu, seperti lebaran dan Hari Kemerdekaan RI.

"Yang berkaitan dengan masalah libur cuti bersama akhir tahun, termasuk libur pengganti cuti bersama hari raya Idul Fitri, Bapak Presiden memberikan arahan supaya ada pengurangan," kata Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (23/11/2020).

Seberapa besar dampak jika libur panjang ini dipotong?

"Jika liburan ini dipotong memang ada dampaknya, tapi itu tidak terlalu signifikan kalau lainnya (kegiatan) seperti pilkada itu diperbolehkan juga," jawab ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, saat dihubungi detikcom, Senin (23/11/2020).

Dicky menegaskan tidak hanya libur panjang seperti akhir tahun nanti yang bisa berdampak besar pada peningkatan kasus COVID-19. Tetapi, bisa dipengaruhi oleh dua faktor yang kerap muncul karena libur panjang.

"Tidak hanya libur panjang, mau akhir tahun, pasca lebaran, atau pasca hari kemerdekaan dulu. Itu semua akan berdampak karena ada pergerakan manusia, ada interaksi manusia, yang 2 hal ini menjadi faktor yang bisa memperparah," kata Dicky saat dihubungi detikcom, Senin (23/11/2020).

"Atau sebaliknya, jika kurang mobilitasnya (pergerakan) atau interaksinya, itu akan memperkuat pengendalian pandemi," lanjutnya.

Apakah imbauan pemotongan libur panjang sudah benar?

Dicky juga mengatakan, imbauan yang usulkan presiden terkait pengurangan libur akhir tahun adalah keputusan yang benar. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa di bulan Desember itu banyak kegiatan yang memungkinkan terjadinya mobilitas dan interaksi massa, di antaranya kegiatan yang dilakukan saat natal dan pilkada.

"Jadi imbauan dari presiden ini benar. Tapi mohon juga beliau harus mengetahui bahwa tidak hanya libur panjang. Di Desember itu potensi yang melibatkan mobilitas dan interaksi manusia itu ada pilkada, natal (kegiatannya), libur panjang akhir tahunnya, bisa jadi ada reuni atau demo. Itu semua sama, tidak bisa dibedakan," jelas Dicky.

"Dan harus dipahami bahwa pengendalian pandemi kita ini belum begitu baik, sehingga segala bentuk yang melibatkan mobilitas massa ini tidak bisa dibenarkan atau masuk ke kategori aman," imbuhnya.



Simak Video "Tips Aman Virus Corona saat Libur Akhir Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)