Selasa, 24 Nov 2020 08:46 WIB

Peneliti AstraZeneca Yakin Vaksin COVID-19 Buatannya Bisa Efektif 90 Persen

Ayunda Septiani - detikHealth
MACCLESFIELD, CAMBRIDGESHIRE - MAY 07:  A general view of buildings and signage at the Macclesfield Campus of pharmaceutical company AstraZenica on May 7, 2014 in Macclesfield, United Kingdom. The proposed takeover by American pharmaceutical giant Pfizer of its British rival AstraZeneca has led to the UK Business Secretary Vince Cable addressing Parliament to affirm the governments commitment to securing British science jobs.  (Photo by Christopher Furlong/Getty Images) Peneliti AstraZeneca yakini Vaksin buatannya bisa efektif 90 persen. (Foto: Getty Images/Christopher Furlong)
Jakarta -

AstraZeneca pada Senin (23/11/2020) mengatakan efektivitas vaksin COVID-19 yang dikembangkannya bisa mencapai 90 persen. Tingkat efektivitas yang tinggi diyakini memberi senjata untuk melawan pandemi global dan berpotensi lebih murah untuk diproduksi, lebih mudah untuk didistribusikan, dan lebih cepat untuk ditingkatkan dibandingkan dengan vaksin-vaksin lainnya.

Produsen obat Inggris itu mengatakan akan memproduksi sebanyak 200 juta dosis pada akhir tahun 2020. Jumlah tersebut sekitar empat kali lipat dibandingkan dengan AS Pfizer Inc. Tujuh ratus juta dosis dapat tersedia secara global segera setelah akhir kuartal pertama tahun 2021.

Vaksin tersebut efektif mencegah 70 persen kasus COVID-19 dalam uji coba tahap akhir di Inggris dan Brasil. Tingkat keberhasilan pun meningkat menjadi 90 persen pada kelompok peserta percobaan yang secara tidak sengaja menerima setengah dosis diikuti dengan dosis penuh. Kemanjurannya adalah 62 persen jika dosis penuh diberikan dua kali, seperti pada kebanyakan peserta penelitian.

"Ini berarti kami memiliki vaksin untuk dunia," kata Andrew Pollard, direktur kelompok vaksin Universitas Oxford yang mengembangkan obat tersebut, dikutip dari laman Reuters.

Harga vaksinnya pun hanya beberapa dolar per satu suntikan, jauh lebih murah daripada harga Pfizer dan Moderna, yang menggunakan teknologi yang tidak konvensional.

Menurut peneliti, vaksin juga dapat disimpan pada suhu lemari es normal, yang artinya bisa lebih mudah untuk didistribusikan, terutama di negara-negara miskin.

Ketetapan suhu tersebut dianggap lebih mudah dibandingkan dengan vaksin buatan Pfizer yang perlu disimpan pada suhu -70 derajat Celcius, ukuran suhu yang kerap dicapai pada musim dingin di Antartika.

Selain itu, Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengatakan jika vaksin ini disetujui oleh regulator, vaksin akan tersedia untuk masyarakat pada tahun depan.

"Ini benar-benar berita yang menggembirakan tentang vaksin Oxford atau AstraZeneca, yang jelas telah kami dukung sejak awal," katanya, dikutip dari laman The Guardian.

"Dan saya sangat senang, sangat menyambut angka-angka ini, data ini, yang menunjukkan bahwa vaksin dengan dosis yang tepat dapat efektif hingga 90%," pungkasnya.



Simak Video "Indonesia Amankan 50 Juta Vaksin AstraZeneca dan Novavax"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)