Rabu, 25 Nov 2020 19:49 WIB

COVID-19 Ngegas Terus di Jateng, Dinkes Angkat Bicara

Angling Adhitya Purbaya - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Semarang -

Provinsi Jawa Tengah berada di posisi kedua penambahan kasus COVID-19 terbanyak setelah DKI Jakarta pada Rabu (25/11/2020). Salah satu penyebab bertambahnya Corona di Jateng yaitu libur panjang akhir Oktober 2020 lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, mengatakan kenaikan pada minggu ke-45, 46, dan 47 ada korelasinya dengan kegiatan masyarakat yaitu libur panjang 28 Oktober 2020 - 1 November 2020.

"Kenaikan di minggu ke-46, 47 bahkan sejak minggu ke 45. Minggu-minggu pasca libur panjang. Dan itu kalau dulu libur panjang minggu ke-43 dan 44. Pasca itu terjadi peningkatan tidak hanya di Jateng. Ada pengaruh kegiatan kemasyarakatan, pengaruhnya ya libur panjang, terjadi arus mobilitas meningkat," kata Yulianto dalam jumpa pers virtual, Rabu (25/11/2020).

Selain itu menurut Yulianto angka kasus makin tinggi juga karena tingginya tes COVID-19. Kemudian ada penyebab lainnya yaitu mutasi dari virus di Jateng.

"Ketiga adalah sebenarnya tingkat transmisi di lapangan bagaimana? Virus yang ada di Jateng-DIY, tempat lain, sudah mutasi ke-7," jelasnya.

Kemudian terkait data pusat yang ada perbedaan dengan data website Jateng sehingga peningkatan data kasus tinggi, karena merupakan data delay. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebelumnya mengatakan beberapa hari kedepan akan ada lonjakan karena proses sinkronisasi data.

"Kita nanti akan terus untuk meningkatkan agar perbedaan semakin kecil yang penting kita jujur saja," terang Yulianto.

Ia menambahkan, saat ini klaster tertinggi yang menonjol yaitu klaster rumah tangga, pondok pesantren, dan pasar. Mayoritas dilakukan isolasi mandiri.

"Klaster rumah tangga yang terpapar ada 374, ini Ada riwayat perjalanan dari luar daerah. Kedua pondok pesantren, ada 271, sampai hari Senin kemarin datanya, kebanyakan transmisi lokal. Ada klaster pasar ada 91 orang," katanya.

Untuk diketahui, Pemerintah melaporkan 5.534 kasus baru COVID-19 yang terkonfirmasi hari ini. DKI Jakarta menjadi yang tertinggi dengan jumlah 1.273 kasus, kemudian Jawa Tengah 1.008 kasus dan Jabar 741 kasus.



Simak Video "Ciri-ciri Gejala Corona pada Lidah"
[Gambas:Video 20detik]
(alg/up)