Kamis, 26 Nov 2020 18:30 WIB

Pertimbangan Bio Farma Soal Vaksin COVID-19 dari Pfizer dan AstraZeneca

Firdaus Anwar - detikHealth
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination. Ilustrasi vaksin COVID-19. (Foto: iStock)
Jakarta -

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNtech dan Oxford-AstraZeneca jadi sorotan karena mulai melaporkan hasil dari uji klinik fase tiga. Vaksin Pfizer-BioNtech disebut efektif sampai 95 persen mencegah gejala COVID-19, sementara vaksin Oxford-AstraZeneca dilaporkan rata-rata efektif 70 persen.

Sempat dikabarkan pemerintah Indonesia tertarik untuk mendatangkan vaksin-vaksin tersebut. Direktur Operasi Bio Farma, M. Rahman Roestan, berkomentar bahwa pihaknya sampai saat ini masih melakukan pengkajian.

"Jadi memang untuk memenuhi kebutuhan vaksin seluruh masyarakat Indonesia kita tidak bisa mengandalkan dari satu sumber... Untuk AstraZeneca dan lain-lain kita masih review kemungkinan kerja samanya," kata Rahman dalam konferensi pers yang disiarkan BPOM, Kamis (26/11/2020).

Menurut Rahman ada beberapa hal selain hasil uji klinis yang harus dipertimbangkan sebelum mendatangkan vaksin tersebut ke Indonesia.

Sebagai contoh, beberapa vaksin Corona diketahui butuh penyimpanan dengan suhu dingin yang ekstrem agar tidak cepat rusak. Bagi sebagian daerah, vaksin yang seperti ini kemungkinan sulit didistribusikan karena kurangnya sarana pendukung.

"Beberapa parameter harus dipertimbangkan. Bukan cuma soal kecepatan dan kecukupan, tapi juga kepraktisan di lapangan," ungkap Rahman.

"Bisa tidaknya secara teknis nanti didistribusikan ke seluruh provinsi. Kita kan negara kepulauan dengan kondisi tropis. Tentunya akan ada penyesuaian yang harus kita kaji betul," pungkasnya.

:



Simak Video "Sederet Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer yang Uji Klinisnya Sudah Rampung"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/naf)