Sabtu, 28 Nov 2020 07:46 WIB

WHO Tanggapi Klaim COVID-19 Bukan dari China, Ini Katanya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Mutasi virus corona yang membingungkan para ilmuwan WHO tanggapi klaim COVID-19 bukan berasal dari China, apa faktanya? (Foto: BBC World)
Jakarta -

Sudah satu tahun pandemi COVID-19 berlalu, asal-usul virus Corona masih belum ditemukan. Virus yang diketahui pertama kali dilaporkan di Wuhan, China, belakangan diklaim tak pertama kali menyebar di sana.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ikut merespons beberapa dugaan ini, termasuk beberapa pernyataan dari China yang berulang kali menegaskan COVID-19 bukan berasal dari negaranya. Klaim China soal asal-usul COVID-19 berdasarkan pada 'bukti' adanya jejak COVID-19 di makanan beku impor.

Selain itu, China menyebut hal ini merujuk pada jurnal ilmiah yang membuktikan jika COVID-19 kemungkinan sudah beredar di Eropa lebih dulu. Pakar darurat WHO Mike Ryan mengatakan, sangat spekulatif jika menyebut COVID-19 bukan dari China.

"Saya pikir sangat spekulatif bagi kami untuk mengatakan bahwa penyakit itu tidak muncul di China," kata Mike Ryan pada briefing virtual di Jenewa setelah ditanya apakah COVID-19 bisa pertama kali muncul di luar China, dikutip dari Reuters.

"Jelas dari perspektif kesehatan masyarakat bahwa Anda memulai penyelidikan di mana kasus manusia pertama kali muncul," tambahnya, mengatakan bahwa bukti kemudian dapat mengarah ke tempat lain.

Saat ini WHO kembali menginvestigasi asal-usul COVID-19 ke Wuhan, China untuk segera mendapat titik terang terkait awal mula wabah Corona. WHO sempat dituduh Trump terkait 'China-sentris' namun berulang kali WHO membantah tuduhan tersebut.

Studi Corona berasal dari India

Baru-baru ini, sebuah studi juga menyebut COVID-19 kemungkinan berasal dari India. Tim peneliti asal China yang dipimpin Dr Shen Libing melakukan pendekatan lain untuk melacak asal-usul COVID-19. Mereka menghitung jumlah mutasi COVID-19 dalam setiap jenis virus.

Ada 17 negara yang menjadi objek penelitian. Hasil studi menemukan ada delapan negara yang memiliki mutasi paling sedikit seperti Australia, Bangladesh, Yunani, AS, Rusia, India, Italia, dan Ceko.

Namun, area asal muasal wabah harus mempunyai keragaman genetik yang luar biasa. India dan Bangladesh disebut menjadi yang potensial, demikian lapor studi yang dimuat di The Lancet berjudul 'The Early Cryptic Transmission and Evolution of SARS-CoV-2 in Human Hosts'.



Simak Video "Cara Cegah Disease X Agar Tak Jadi Pandemi Setelah Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)