Senin, 30 Nov 2020 10:05 WIB

Soal Hasil Swab HRS, Ahli Epidemiologi Singgung Potensi 'Super-Spreader'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab tiba di kawasan Slipi, Jakarta. Ia disambut lautan manusia, Selasa (10/11). Ahli epidemiologi soal hasil tes COVID-19 Habib Rizieq Shihab. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Belakangan, persoalan tes COVID-19 Habib Rizieq Shihab yang tak diungkap ramai diperbincangkan. RS UMMI Bogor, tempat Rizieq dirawat pun mendapat peringatan keras dari Wali Kota Bogor Bima Arya karena dinilai tak kooperatif.

Sementara itu, RS UMMI Bogor mengaku belum menerima hasil tes swab Habib Rizieq. Mereka membantah tudingan soal menutup-nutupi kondisi Habib Rizieq.

"Soal tidak memberikan laporan, yang terjadi adalah kami belum mendapatkan informasi dan sampai sekarang kami masih mengusahakan kepada pihak MER-C," kata Dirut RS UMMI, Andi Tatat, dalam konferensi pers dengan Wali Kota Bogor, Minggu (29/11/2020).

Menurut Epidemiolog UGM dr Riris Andono Ahmad, hasil tes COVID-19 Habib Rizieq yang tak segera diungkap bisa berbahaya bagi kepentingan publik. Terlebih jika ia melakukan kontak erat dengan banyak orang karena berpotensi menjadi super-spreader.

"Kalau misalnya kita tidak tahu statusnya dia kemudian dia misalnya ternyata positif dan dia tidak mengatakan bagaimana kita bisa menginisiasi tracing terhadap orang yang kontak dengan Habib rizieq," ungkapnya saat dihubungi detikcom Senin (30/11/2020).

Lebih lanjut, ia menjelaskan tidak ada keistimewaan yang bisa didapat setiap individu, apalagi di tengah pandemi COVID-19. Kepentingan publik menurutnya lebih besar terkait dengan menghentikan risiko penularan COVID-19.

"Kemudian apabila ini tidak dilakukan tracing dan banyak yang positif bagaimana kita bisa menutup penularannya. Jadi problemnya di situ, bukan masalah kerahasiaan pasien," lanjut dr Riris.

"Bukan masalah kemudian tidak menghargai data pasien, kerahasiaan pasien, tapi pada masa seperti ini, kepentingan publik itu akan lebih besar dibandingkan kepentingan individu,

Ia kembali menegaskan kemungkinan penularan COVID-19 terjadi secara luas dari satu orang, karena melakukan kontak erat dengan banyak orang.

"Yang harus dilihat individu itu menjadi penularan yang besar atau tidak, dia punya potensi menjadi super spreader gak. Orang yang punya interaksi yang sangat erat dengan banyak orang itu punya potensi menjadi super-spreader," pungkasnya.



Simak Video "11 Provinsi Indonesia dengan Jumlah Tes Corona Lampaui Target WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)