Senin, 30 Nov 2020 14:05 WIB

Anak-anak Kebal COVID-19? Ketahui Faktanya!

Content Promotion - detikHealth
Mecosin Foto: istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 belum berakhir. Bahkan beberapa gejala baru mulai bermunculan. Hingga saat ini, angka tertinggi pasien terkena COVID-19 berada pada usia dewasa hingga lansia. Namun apakah anak-anak bisa terserang COVID-19? Seperti apa gejala COVID-19 pada anak-anak?

Berdasarkan grafik yang diambil dari laman covid19.go.id, hingga 28 November 2020 jumlah pasien terkonfirmasi ada 527.999 orang, 2,6%-nya adalah anak-anak usia 0-5 tahun (sekitar 13.727 anak), dan 8,8% anak-anak usia 6-18 tahun (sekitar 46.463 anak). Angka-angka pada grafik ini akan memberikan gambaran jelas bahwa anak-anak tak kebal terhadap COVID-19.

MecosinAnak-anak Kebal COVID-19? Ketahui Faktanya! Foto: istimewa

Dari laman yang sama pula, berikut gejala-gejala yang dialami mereka yang positif terjangkit COVID-19.

MecosinAnak-anak Kebal COVID-19? Ketahui Faktanya! Foto: istimewa

Gejala Pasien COVID-19 Usia Anak

Berdasarkan pedoman tata laksana COVID-19 edisi ke-2, Agustus 2020 yang disusun oleh 5 perhimpunan dokter spesialis (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia/PDPI, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia/PERKI, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia/PAPDI, Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia/PERDATIN), Ikatan Dokter Anak Indonesia/IDAI, berat ringannya gejala COVID-19 pada anak-anak terbagi menjadi lima.

1. Pasien Tanpa Gejala

Ini adalah kondisi yang paling ringan. Walaupun hasil PCR positif (Uji SARS-Cov-2 positif) tetapi pada pasien ini tidak ditemukan gejala.

2. Pasien dengan Gejala Ringan

Gejala infeksi saluran napas atas seperti demam, fatigue, mialgia, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, dan bersin. Beberapa kasus mungkin tidak disertai demam, dan lainnya mengalami gejala saluran pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, diare, atau gejala non-respiratori lainnya.

3. Pasien dengan Gejala Sedang/Moderat

Pasien dengan tanda klinis pneumonia tidak berat (batuk atau sulit bernapas ditambah napas dan/atau tarikan dinding dada cepat) dan tidak ada tanda pneumonia berat.

Kriteria napas cepat: usia < 2 bulan: 60 x/menit, usia 2-11 bulan: ≥ 50 x/menit, usia 1-5 tahun: ≥ 40 x/menit, dan usia > 5 tahun: ≥ 30x/menit.

4. Pasien dengan Gejala Berat/Pneumonia Berat

Pasien dengan tanda klinis pneumonia (batuk atau kesulitan bernapas), ditambah setidaknya satu dari gejala berikut ini.

-Sianosis sentral atau SpO2 < 93%.

-Distres pernapasan berat (napas cepat, grunting, tarikan dinding dada sangat berat).

-Tanda bahaya umum: ketidakmampuan menyusui atau minum, letargi, atau penurunan kesadaran atau kejang.

-Napas/tarikan dinding dada/takipnea cepat. Dengan kriteria cepat: usia < 2 bulan: 60 x/menit, usia 2-11 bulan: ≥ 50 x/menit, usia 1-5 tahun: ≥ 40 x/menit, dan usia > 5 tahun: ≥ 30x/menit.

5. Pasien Kritis

Pasien dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis, dan syok sepsis.

Walaupun jumlah angka penderita COVID-19 pada anak-anak lebih kecil dibandingkan penderita dewasa, hendaknya menjadi perhatian bagi para orang tua agar selalu waspada dan mengajarkan pada anak-anak agar selalu menjalani protokol kesehatan di tengah pandemi. Apalagi di musim hujan saat berbagai macam penyakit datang bermunculan. Salah satu penyakit yang sering kali datang di musim hujan adalah infeksi saluran pernapasan.

MecosinAnak-anak Kebal COVID-19? Ketahui Faktanya! Foto: istimewa

Kenali Saluran Pernapasan Atas dan Gangguannya

Saluran pernapasan manusia terbagi dua, yaitu saluran pernapasan atas yang dimulai dari hidung sampai trakea (tenggorokan), dan saluran pernapasan bawah yaitu dimulai dari bronkus, bronkiolus, hingga alveoli. Baik infeksi saluran pernapasan atas maupun saluran pernapasan bawah gejalanya adalah batuk. Hanya saja batuk yang terjadi pada saluran pernapasan bawah lebih berat dan terkadang disertai dahak dan lendir. Gejala lain dari infeksi saluran pernapasan bawah adalah sesak, meningkatnya frekuensi pernapasan, atau adanya bunyi mengi saat bernafas. Infeksi saluran pernapasan bawah bisa berupa bronchitis, bronchiolitis, dan pneumonia.

Batuk merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang tidak boleh ada dalam saluran pernapasan. Benda asing yang dimaksud bisa berupa virus, bakteri, debu atau makanan maupun minuman yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Berdasarkan sebuah studi, infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus paling banyak terjadi di musim hujan. Sebab di musim hujan virus paling banyak berkembang biak, tidak terkecuali virus COVID-19.

MecosinAnak-anak Kebal COVID-19? Ketahui Faktanya! Foto: istimewa

Waspadai Penyakit yang Timbul di Musim Hujan

Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) mengimbau agar anak-anak terutama usia balita (bawah lima tahun)-sebagai kelompok yang paling rentan terkena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) mendapatkan perhatian khusus di musim hujan.

Sebab pada umumnya daya tahan tubuh pada anak-anak tidak sekuat orang dewasa. Ketika anak-anak terserang batuk, memberikan obat batuk yang sekaligus bermanfaat meningkatkan daya tahan tubuh merupakan sebuah pilihan yang bijak. Beberapa herbal yang bermanfaat sebagai obat batuk dan juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak-anak adalah madu dan jahe merah.

Kedua bahan ini ada di dalam obat batuk herbal anak Laserin Madu. Madu dan jahe merah telah dipercaya turun temurun sebagai herbal yang dapat mengobati batuk karena keduanya mempunyai sifat ekspektoran dan anti radang yang ampuh mengatasi batuk dan melegakan tenggorokan pada anak. Berikut tips agar anak terhindar dari gangguan batuk di musim hujan dan pada masa pandemi.

1. Pakai masker setiap kali hendak ke luar rumah.

2. Cuci tangan pakai sabun di bawah air yang mengalir setiap kali habis memegang benda pada fasilitas umum.

3. Hindari membawa anak di keramaian seperti pasar, mal, supermarket, dan tempat-tempat kerumunan lainnya.

4. Bila cuaca dingin, kenakan pakaian yang lebih tebal agar anak tetap merasa hangat. Terutama pada bayi (0-12 bulan) di mana pengaturan suhu pada tubuhnya belum sempurna, sehingga bila udara dingin bayi akan cepat sekali merasa kedinginan.

5. Memberikan makanan yang hangat, seperti sup, dan berbagai jenis makanan hangat lainnya.

6. Bila perlu berikan vitamin yang bersifat imunomodulator (meningkatkan daya tahan tubuh).

7. Bila batuk mulai menyerang, atau tenggorokan anak mulai terasa gatal, segera berikan Laserin Madu yang tidak hanya mengatasi batuk pada anak tetapi juga menjaga daya tahan tubuh anak karena terdapat kandungan madu murni (Mel Depuratum) dan jahe merah.

Sediakan selalu obat batuk herbal anak Laserin Madu di rumah. Ketika anak batuk, berikan Laserin Madu 1-2 sendok teh (sesuai rekomendasi pada kemasan). Rasa manis dan hangat Laserin Madu menjadi pelindung anak Anda dari serangan batuk yang mengganggu.

MecosinAnak-anak Kebal COVID-19? Ketahui Faktanya! Foto: istimewa

(ads/ads)