Selasa, 01 Des 2020 16:51 WIB

Vaksin Jadi, COVID-19 Berakhir? Tak Segampang Itu, Ini Penjelasannya

Ayunda Septiani - detikHealth
Female doctor holding a syringe Vaksin COVID-19 (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Hingga saat ini angka infeksi COVID-19 di dunia masih belum menunjukkan angka perubahan yang baik. Dikutip dari laman Worldometer ada 63 juta kasus positif COVID-19 di dunia, 1 juta di antaranya meninggal dunia, dan 44 juta jiwa sudah dinyatakan sembuh.

Meski demikian, para ilmuwan dan peneliti saat ini berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin guna untuk menghentikan pandemi Corona. Vaksin dianggap sebagai unsur penting dalam upaya mengatasi penyebaran penyakit menular dari waktu ke waktu, termasuk pandemi baru yang hingga ini masih melanda berbagai penjuru dunia dan belum bisa diatasi sepenuhnya.

Namun apakah vaksin bisa mengakhiri pandemi COVID-19?

Vaksinolog Dirga Sakti Rambe mengatakan vaksin memang instrumen penting dalam kendalikan pandemi. Tetapi, dalam prosesnya butuh waktu yang tak singkat.

"Kita harus sadari bahwa vaksin itu tidak seketika menghilangkan pandemi karena adanya tantangan pembuatan vaksin, karena tidak mudah dan kapasitasnya terbatas, adanya ambang cakupan yang harus dipenuhi, jadi secara teoritis 60-70 persen penduduk harus divaksinasi," jelas Dirga dalam Virtual Talkshow Kebaikan Vaksin Pulihkan Indonesia bersama detikcom, Selasa (1/12/2020).

Atas dasar tersebut, Dirga mengatakan, sembari menunggu vaksin COVID-19 masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes), salah satunya dengan menerapkan 3M yakni mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak.

"Oleh karena itu sambil menunggu vaksinnya ada sekarang dan sekalipun nanti vaksinnya ada tentu kita tetap harus terus menerapkan protokol pencegahan, 3M-nya harus jalan terus," tambah Dirga.

"Vaksin dapat membantu mengakhiri pandemi tapi membutuhkan waktu dan tidak bisa seketika," tegasnya.



Simak Video "WHO Tak Rekomendasikan Paspor Vaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)