Rabu, 02 Des 2020 17:50 WIB

Ini Prinsip Utama Pemilihan Vaksin COVID-19

Jihaan Khoirunisaa - detikHealth
Dr. Erika, Sp,JP.FIHA, spesialis jantung dan pembuluh darah RS Pusat Pertamina bersama Prof. DR. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi (Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional, ITAGI)) dalam dialog produktif bertema Persiapan Saat Vaksin Tiba di Jakarta, Rabu, 2 Desember 2020. Foto: KPCPEN-Dr. Erika, Sp,JP.FIHA, spesialis jantung dan pembuluh darah RS Pusat Pertamina bersama Prof. DR. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi (Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional, ITAGI)
Jakarta -

Hingga saat ini virus Corona telah menimbulkan banyak korban. Selain penerapan protokol kesehatan 3M, diperlukan vaksinasi bertahap demi mencegah penularan sekaligus menghentikan pandemi COVID-19.

"Jadi vaksinasi ini akan mencegah penularan dan membantu mempercepat proses menghentikan pandemi," ujar Anggota Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional dari ITAGI Prof, Dr. dr Soedjatmiko, SpA(K)., Msi, Rabu (2/12/2020).

Hal itu dia katakan dalam Dialog Produktif 'Indonesia Siapkan Vaksinasi' yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), di Jakarta.

Pasalnya, meski masyarakat telah menerapkan protokol kesehatan, jumlah kasus positif virus Corona kian bertambah, dengan rata-rata antara 4-5 ribu orang setiap hari. Selain penambahan kasus, jumlah korban meninggal akibat COVID-19 dari kalangan masyarakat juga cukup tinggi, yakni sekitar 100-160 orang per hari. Sedangkan dokter dan tenaga medis yang meninggal akibat COVID-19 juga tercatat sudah mencapai sekitar 290 ribu.

Lebih lanjut Soedjatmiko menjelaskan, vaksin yang akan digunakan harus aman serta tidak memiliki efek samping berat. Selain itu, vaksin pun harus mempunyai efikasi yang ideal 70 persen dan minimal 50 persen mengikuti standar WHO.

Disebutkannya, vaksin perlu mencapai perlindungan untuk kurun waktu yang panjang, yaitu 6 bulan atau 1 tahun. Kemudian terkait stabilitas penyimpanan, kemasan (multidose, optimalisasi kapasitas rantai dingin vaksin), evaluasi penyuntikan, evaluasi jadwal akan diotorisasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tujuan vaksinasi, sambungnya, tidak lain meningkatkan kekebalan individu, menciptakan kekebalan kelompok, menurunkan penularan, kesakitan, serta kematian akibat suatu penyakit.

"Vaksinasi telah terbukti menghadapi pandemi suatu penyakit seperti campak, polio, dan difteri," kata Soedjatmiko.

Sebagai informasi, vaksin Sinovac yang akan digunakan dipastikan telah lulus uji klinik tahap tiga dan diizinkan beredar oleh BPOM. Selain vaksin yang disiapkan oleh beberapa lembaga dari luar, Indonesia juga tengah menyiapkan vaksin Merah Putih karya anak bangsa yang siap didistribusikan tahun 2021 mendatang.

(ega/ega)