Jumat, 04 Des 2020 05:29 WIB

Round Up

Beda Data Provinsi Vs Pusat di Balik Rekor 8.369 Kasus Harian COVID-19

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Indonesia mencatatkan rekor 8.369 kasus pada 3 Desember 2020. Ketidaksinkronan data antara pusat dan daerah masih menjadi masalah.

"Angka yang sangat tinggi ini salah satunya disebabkan karena sistem yang belum optimal untuk mengakomodasi pencatatan, pelaporan, dan validasi data dari provinsi secara real time," kata juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmita, Jumat (3/12/2020).

Beberapa provinsi masih memiliki perbedaan data dengan Satgas COVID-19 pusat. Dicontohkan Prof Wiku, di antaranya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua.

Data dari Provinsi Papua misalnya, dikatakan Prof Wiku merupakan akumulasi kasus positif sejak 19 November. Karenanya, Papua pada Jumat (3//12/2020) mencatatkan penambahan kasus tertinggi dengan angka yang fantastis yakni 1.755 kasus, di atas Jawa Barat dengan 1.648 kasus, dan DKI Jakarta dengan 1.153 kasus.

Ledakan kasus kali ini tidak lepas juga dari meningkatnya jumlah pemeriksaan yang dilakukan. Tercatat sebanyak 62.397 spesimen yang diperiksa, dari yang biasanya hanya di kisaran 40 ribu.

Berikut detail perkembangan virus Corona di Indonesia pada Kamis (3/12/2020):

  • Kasus positif bertambah 8.369 menjadi 557.877
  • Pasien sembuh bertambah 3.673 menjadi 462.553
  • Pasien meninggal bertambah 156 menjadi 17.355

Jumlah pemeriksaan sebanyak 62.397 spesimen, sedangkan suspek sebanyak 69.027 orang.

Kepatuhan menurun

Faktor lain yang memicu lonjakan kasus adalah semakin menurunnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Pantauan hingga 18 November menunjukkan, penurunan terbesar teramati pada periode libur panjang antara 28 Oktober hingga 1 November.

"Persentase kepatuhan untuk memakai masker ialah 59,32 persen. sedangkan untuk menjaga jarak ialah 43,46 persen," kata Prof Wiku.

Menurutnya, libur panjang merupakan momentum pemicu utama penurunan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Namun banyak yang tidak patuh, makin besar risiko penularan COVID-19.



Simak Video "Ciri-ciri Gejala Corona pada Lidah"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)