Sabtu, 05 Des 2020 12:15 WIB

Pegowes Ingin Pakai Foto Keren Jepretan Fotografer? Begini Etikanya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan. Pemotret pesepeda. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Jakarta -

Hampir setiap pagi pemotret sepeda mangkal di area yang dilalui pegowes. Tujuannya satu, menghasilkan foto yang bisa mendulang cuan bagi mereka.

Tak cuma modal kamera, para penjaja jasa foto sport enthusiast ini juga bermodal keterampilan dan kreativitas untuk bisa menghasilkan foto ciamik yang layak untuk ditawarkan ke pegowes. Mereka yang tergabung di komunitas foto pegowes kebanyakan berlatar belakang fotografer lepasan yang di waktu normal bekerja di agenda atau event tertentu.

Namun karena pandemi COVID-19 yang membuat banyak acara besar terpaksa dibatalkan, mereka mencari cara bertahan salah satunya dengan menjual jasa sebagai foto pesepeda.

Sehabis memotret, biasanya mereka mengedit beberapa foto dengan watermark lalu mempostingnya di akun Instagram pribadi. Tujuannya biasanya untuk menginformasikan kepada pesepeda jika ada yang ingin memesan foto yang mereka jepret.

Tapi nggak jarang juga ada beberapa orang yang mengambil foto dengan watermark tanpa membelinya. Peksi, yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia fotografi ini mengatakan kerap mengalami kejadian tersebut.

Saking seringnya, ia sudah tak kesal lagi jika ada yang mengambil fotonya yang masih memiliki watermark.

"Nggak kesel sih. Gue selalu menganggap kalau foto gue diambil orang terus ada watermarknya, gue anggap sedekah. Kalau gue sih aliran sedekah dan promosi," katanya saat ditemui detikcom, Jumat (4/12/2020).

Peksi bercerita kini lebih ikhlas karena kejadian yang dialaminya beberapa tahun silam. Kala itu ia pernah menangkap momen epik salah satu suporter bola. Fotonya dicomot dan dipakai tanpa seizinnya, terlebih akun yang memposting foto itu bertujuan untuk jualan.

"Itu sampai gue di titik protes di Instagram, kirim email, akunnya harus di take down, tapi pada akhirnya nggak terjadi apa-apa. Jadi gue udah sampai di titik gue memilih fokus, ketika satu hal gue keluarkan di media sosial dan kadang itu tidak selalu berimbas sama apa yang gue harapkan, gue ikhlasin," jelasnya.

Berbeda cerita dengan Norman. Ia mengaku sudah puluhan kali mendapati fotonya diambil tanpa izin oleh orang lain, dan setiap kali tahu, dia selalu menegur akun yang memposting gambarnya.

"Jujur sih kalau saya ngomel. Basically sebenarnya kalau mau pake, silahkan. Tapi izin dulu minimal deh. Misal 'mas fotonya bagus, saya boleh nggak pakai di konten saya,'" ujarnya.

Meski tak bisa berbuat banyak, Norman berharap agar makin banyak yang paham bahwa karya orang lain tak bisa diambil seenaknya tanpa izin. Terlebih jika tujuannya adalah untuk komersil.

"Kalau izin kan saya bisa minta tolong tag atau mention utk promosi juga. Jadi ada feedback. kalau tanpa izin kan saya kesal juga," pungkasnya.



Simak Video "Pesepeda Indonesia Kian Banyak, Gimana Fasilitas Umum Pendukungnya?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)