Sabtu, 12 Des 2020 16:34 WIB

Kata MUI Soal Perlu-Tidaknya Status Halal Vaksin COVID-19

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Vaksinasi Jerman Diprediksi Berlangsung hingga Tahun 2022 Ilustrasi vaksin COVID-19. (Foto: DW (News))
Jakarta -

Sejumlah kandidat vaksin Corona COVID-19 kini mulai bisa digunakan sebagai penggunaan darurat. Namun, kehalalan vaksin masih belum diketahui secara pasti.

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh, mengatakan ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kondisi darurat seperti ini untuk penggunaan vaksin Corona.

Meski diharapkan nantinya vaksin Corona bisa teruji halal, namun dalam kondisi darurat, yang terpenting adalah vaksin tersebut memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan efek sampingnya.

Niam pun menjelaskan, prinsip pemberian sertifikasi halal atau tidak dalam kondisi darurat seperti ini, itu sama halnya dengan pertimbangan dalam pemberian izin penggunaan darurat yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Prinsip dasarnya kita tidak boleh mengonsumsi kecuali yang halal. Tetapi, in case nanti seandainya dalam proses produknya itu tidak memenuhi standar halal dan pada aspek keamannya sudah bisa di guarantee, maka akan masuk ke dalam fase yang kedua (boleh digunakan)," kata Niam dalam sebuah diskusi online, Sabtu (12/12/2020).

"Prinsipnya bisa jadi boleh menggunakan sesuatu zat yang tidak halal untuk digunakan dalam tujuan yang lebih besar," lanjutnya.

Meski begitu, Niam mengatakan, apabila nantinya sudah terdapat vaksin Corona yang dipastikan halal, maka vaksin yang memiliki bahan kandungan tidak halal tak diperkenankan untuk digunakan.

"Misalnya, di hadapan kita ada alternatif obat yang satu halal dan yang satu haram, maka yang nggak halal nggak boleh digunakan. Bukan serta merta kemudian boleh, nggak peduli meskipun ada yang halal, nggak boleh dalam kondisi yang seperti itu," pungkasnya.



Simak Video "Vaksin COVID-19 Karya RI Pakai Sel Dendritik, Ini Cara Kerjanya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)