Jumat, 08 Jan 2021 05:56 WIB

Bisa Mengubah DNA, Benar Nggak Sih? Ini 5 Fakta Vaksin COVID-19

Farah Nabila - detikHealth
3D illustration. Genetic test in test tube. Fakta di balik mitos-mitos vaksin COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta -

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memaparkan beberapa fakta tentang vaksin COVID-19 melalui situs resminya. Hal ini berkaitan dengan berbagai pertanyaan dan hoax tentang vaksin COVID-19 yang banyak beredar di internet.

Salah satunya, tentang vaksin COVID-19 membuat seseorang terinfeksi virus Corona. Dalam situs resminya CDC membantah hal tersebut karena vaksin COVID-19 yang telah direkomendasikan dan dikembangkan tidak ada yang mengandung virus Corona.

Berikut beberapa fakta tentang vaksin COVID-19 yang perlu diketahui, yang dikutip dari CDC.

1. Vaksin COVID-19 tidak membuat seseorang terinfeksi virus Corona

Faktanya, tidak ada vaksin COVID-19 yang resmi direkomendasikan atau vaksin COVID-19 yang saat ini dikembangkan di Amerika Serikat mengandung virus hidup yang menyebabkan COVID-19. Artinya, vaksin COVID-19 tidak dapat membuat seseorang terinfeksi virus Corona.

Ada beberapa jenis vaksin yang sedang dikembangkan. Semuanya mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19.

"Terkadang proses ini bisa menimbulkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membangun perlindungan terhadap virus penyebab COVID-19," tulis CDC.

Biasanya dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk membangun kekebalan perlindungan terhadap virus yang menyebabkan COVID-19 setelah vaksinasi. Hal ini membuat adanya kemungkinan seseorang terinfeksi virus yang menyebabkan COVID-19 sebelum atau setelah vaksinasi dan tetap sakit. Ini karena vaksin belum punya cukup waktu untuk memberikan perlindungan.

2. Hasil tes virus Corona tidak positif setelah vaksin

Beberapa vaksin yang diizinkan dan direkomendasikan maupun vaksin COVID-19 lain yang saat ini dalam uji klinis di Amerika Serikat, tidak dapat menyebabkan hasil tes virus Corona positif.

Jika tubuh mengembangkan respons imun yang menjadi tujuan vaksinasi, ada kemungkinan hasil tes positif pada beberapa tes antibodi. Tes antibodi menunjukkan seseorang pernah mengalami infeksi sebelumnya dan bahwa Anda mungkin memiliki tingkat perlindungan tertentu terhadap virus.

Sementara itu, saat ini para ahli sedang melihat bagaimana vaksinasi COVID-19 dapat memengaruhi hasil pengujian antibodi.

3. Orang yang sudah sembuh COVID-19 tetap harus vaksin

Orang yang pernah tertular atau sudah sembuh dari virus Corona harus tetap menjalani vaksin COVID-19. Hal ini karena risiko kesehatan yang parah terkait dengan COVID-19 dan fakta bahwa infeksi ulang COVID-19 sangat memungkinkan sehingga vaksin harus diberikan kepada orang yang sudah sembuh dari virus Corona.

Saat ini para ahli belum mengetahui sampai kapan seseorang terlindungi dari sakit kembali setelah sembuh dari COVID-19. Kekebalan yang diperoleh seseorang dari infeksi, yang disebut kekebalan alami, bervariasi pada setiap orang.

Beberapa bukti awal menunjukkan kekebalan alami mungkin tidak bertahan lama. "Kami tidak akan tahu berapa lama kekebalan yang dihasilkan oleh vaksinasi bertahan sampai kami memiliki lebih banyak data tentang seberapa baik vaksin tersebut bekerja," tulis CDC.

4. Vaksin COVID-19 membuat tubuh terlindungi dari virus Corona

Vaksinasi COVID-19 bekerja dengan mengajarkan sistem kekebalan bagaimana mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Ini membuat vaksin dapat melindungi tubuh dari infeksi virus Corona.

Terlindung dari penyakit itu sangat penting, karena meskipun banyak orang yang terinfeksi virus Corona hanya memiliki penyakit ringan, masih banyak orang yang mungkin menderita penyakit parah, memiliki efek kesehatan jangka panjang, atau bahkan meninggal.

Tidak ada cara untuk mengetahui bagaimana COVID-19 akan memengaruhi tubuh, bahkan jika Anda tidak memiliki peningkatan risiko komplikasi yang parah.

5. Vaksin COVID-19 tidak akan mengubah DNA

Vaksin mRNA COVID-19 tidak mengubah atau berinteraksi dengan DNA dengan cara apa pun. Vaksin RNA Messenger atau vaksin mRNA adalah vaksin COVID-19 pertama yang diizinkan untuk digunakan di Amerika Serikat.

Vaksin mRNA mengajarkan sel tubuh bagaimana membuat protein yang memicu respon imun. MRNA dari vaksin COVID-19 tidak pernah memasuki inti sel, tempat DNA disimpan.

Ini berarti mRNA tidak dapat memengaruhi atau berinteraksi dengan DNA dengan cara apa pun. Sebaliknya, vaksin mRNA COVID-19 bekerja dengan pertahanan alami tubuh untuk mengembangkan kekebalan terhadap penyakit dengan aman.

"Di akhir proses, tubuh kita telah belajar bagaimana melindungi dari infeksi di masa depan. Respon kekebalan dan pembuatan antibodi itulah yang melindungi kita dari infeksi jika virus yang sebenarnya memasuki tubuh kita," tulis CDC.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)