Senin, 18 Jan 2021 05:35 WIB

Fakta-fakta Kematian 29 Lansia di Norwegia Usai Suntik Vaksin Pfizer

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination. Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: iStock)
Topik Hangat Siap Divaksin!
Jakarta -

Sebanyak 29 lansia di Norwegia meninggal setelah mendapat suntikan vaksin COVID-19 buatan Pfizer dan BioNTech. Kabar ini memunculkan keraguan pada sebagian kalangan soal keamanan vaksin COVID-19 bagi lansia.

Beberapa negara menempatkan lansia sebagai prioritas vaksinasi, sedangkan Indonesia baru akan memvaksinasi kelompok tersebut setelah tenaga kesehatan dan petugas layanan publik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan, lansia baru akan mendapat vaksin COVID-19 sekitar Maret-April 2021.

Vaksin Comirnaty yang dikembangkan Pfizer-BiNTech sebenarnya sudah melalui uji klinis yang melibatkan kelompok lansia, dan hasilnya relatif aman. Sedangkan beberapa vaksin lain, seperti CoronaVac buatan Sinovac yang saat ini tersedia di Indonesia, sedang dalam tahap uji klinis pada lansia.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito mengatakan tengah menunggu hasil uji klinis pada lansia untuk bisa memberikan izin penggunaan. Jika hasilnya meyakinkan, maka izin akan segera diberikan.

"Tentunya kita menunggu, mudah-mudahan hasil dari uji klinis fase 1 dan 2 pun juga bisa kita ekstrapolasi, sehingga bisa memberikan keyakinan untuk memberikan izin penggunaannya untuk lansia. Apalagi produknya sudah ada di sini kan di Bio Farma," kata Penny dalam diskusi dengan Ikatan Alumni ITB, Sabtu (16/1/2021).

Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada 29 lansia di Norwegia? Investigasi soal temuan tersebut tengah berlangsung, namun beberapa fakta yang perlu diketahui saat ini terangkum sebagai berikut.

1. Terjadi pada lansia 'frail'

Dari 29 kasus kematian yang dilaporkan, investigasi telah dilakukan pada 13 kasus. Sejauh ini disimpulkan beberapa adverse reaction (demam, muntah, dan diare) dari vaksin mRNA, platform yang digunakan vaksin buatan Pfizer, mungkin memicu dampak fatal pada beberapa pasien lansia dengan kondisi lemah dan rentan.

Dikutip dari legemiddelverket.no, Norwegian Medicines Agency (NOMA) menyebut uji klinis skala besar yang dilakukan Pfizer/BioNTech tidak melibatkan pasien dengan kondisi tidak stabil dan dengan penyakit akut. Norwegia saat ini memvaksinasi lansia dan orang-orang di panti jompo, termasuk yang memiliki penyakit serius.

"Karenanya bisa diperkirakan bahwa kematian di sekitar waktu vaksinasi mungkin terjadi. Di Norwegia, dalam sepekan terjadi rata-rata 400 kematian di panti jompo dan fasilitas pelayanan jangka panjang," tulis NOMA dalam artikel yang dipublikasikan Jumat (15/2/2021).

2. Kewaspadaan ekstra pada lansia dengan penyakit penyerta

Direktur medis NOMA, Steinar Madsen, kepada BMJ mengatakan adverse reactions pada vaksin mRNA tidak berbahaya pada pasien lebih muda dan bugar. Pihaknya menyebut, dampak fatal adalah kondisi yang langka dan terjadi pada pasien yang 'very frail' dengan penyakit sangat serius.

"Kami sekarang meminta dokter melanjutkan vaksinasi tetapi dengan evaluasi ekstra pada orang yang sangat sakit dengan kondisi penyerta yang mungkin kabuh karenanya," katanya.

Evaluasi ekstra mencakup pembahasan rasio 'risk and benefit' dengan pasien maupun keluarganya, untuk memutuskan perlu tidaknya pasien mendapat vaksin.

Beberapa penerima vaksin COVID-19 pertama di dunia adalah lansia. Presiden terpilih AS Joe Biden dan presiden Turki Recep Tayyip Erdogan termasuk di antaranya. Simak selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
Topik Hangat Siap Divaksin!