Selasa, 19 Jan 2021 10:28 WIB

Viral Vaksinasi Jokowi Disebut Gagal dan Harus Diulang, Ini Kata Satgas IDI

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Presiden Jokowi disuntik vaksin Corona (COVID-19) Presiden Jokowi disuntik vaksin COVID-19. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Viral pesan berantai di media sosial yang menyebut vaksinasi COVID-19 Presiden Joko Widodo (Jokowi) gagal. Dalam pesan yang beredar, tercantum nama seorang dokter yang menyimpulkan vaksinasi COVID-19 Jokowi dilakukan dengan tidak benar dan harus diulang.

Ketua Satgas COVID-19 dari Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban menanggapi pesan viral tersebut di akun Twitter miliknya. Ia menuliskan, isu dimulai dari dokter yang menyatakan injeksi vaksin Sinovac seharusnya intramuskular atau menembus otot sehingga penyuntikannya harus dilakukan dengan tegak lurus atau 90 derajat.

Menurut dokter itu, vaksin yang diterima Jokowi tidak menembus otot, karena tidak 90 derajat. Sehingga, dianggapnya, vaksin tersebut tidak masuk ke dalam darah, dan hanya sampai di kulit atau intrakutan atau di bawah kulit atau subkutan. Apakah benar?

"Jawabannya tidak benar. Sebab, menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Itu pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya. Bisa Anda lihat di penelitian berjudul "Mitos Injeksi Intramuskular Sudut 90 Derajat", tulisnya seperti yang dilihat detikcom, Selasa (19/1/2021).

Ia juga memaparkan tentang penelitian yang ditulis oleh DL Katsma dan R Katsma, yang diterbitkan di National Library of Medicine, bahwa persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular itu tidak realistis.

"Artinya, apa yang dilakukan Profesor Abdul Muthalib sudah benar. Tidak diragukan," ujarnya lagi.

Dalam pesan viral tersebut juga disinggung mengenai risiko Antibody Dependent Enhancement (ADE), kondisi di mana virus mati yang ada di dalam vaksin masuk ke jaringan tubuh lain dan menyebabkan masalah kesehatan.

Faktanya, dalam uji klinis vaksin Sinovac fase satu, dua, dan tiga, tidak ada kasus ADE yang terjadi. Lebih jauh, Prof Zubairi juga menyinggung soal ukuran jarum suntik yang digunakan dalam proses vaksinasi.

"Lebih jauh lagi. Apakah tubuh kurus dan tidak punya pengaruh dengan ukuran jarum suntik? Ya kalau obesitas berlebihan tentu jaringan lemaknya banyak. Jadi untuk masuk ke otot jadi lebih sulit. Dokter yang nantinya bisa menilai ukuran jarum suntik itu ketika akan divaksin," jelasnya.



Simak Video "Polemik Vaksinasi yang Dibayang-bayangi Kematian"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)