Rabu, 20 Jan 2021 14:30 WIB

Kenapa Suntikan Vaksin Corona Harus Tembus Sampai Otot? Ini Kata Pakarnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Virus corona: Para pemimpin dunia sepakat galang Rp120 triliun demi ciptakan vaksin virus corona Ilustrasi suntik vaksin. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Sebuah pesan viral mempertanyakan penyuntikan vaksin COVID-19 untuk Presiden Joko Widodo yang tidak tegak lurus, sehingga ada kemungkinan gagal dan harus diulang. Menurut pesan tersebut, suntikan vaksin harus 90 derajat agar menembus otot.

Ketua Satgas COVID-19 dari Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban dengan tegas menyebut pesan tersebut tidak benar karena penyuntikan intra muskular tidak harus selalu 90 derajat.

"Jawabannya tidak benar. Sebab, menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Itu pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya. Bisa Anda lihat di penelitian berjudul "Mitos Injeksi Intramuskular Sudut 90 Derajat", tulisnya seperti yang dilihat detikcom, Selasa (19/1/2021).

Sebenarnya mengapa vaksin Corona perlu disuntikkan secara intramuskular?

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinis, Prof Dr Zullies Ikawati, Apt, menjelaskan pemberian vaksin Corona secara intramuskular ditujukan untuk memaksimalkan khasiat vaksin Corona yang diterima seseorang.

"Tujuannya tentu adalah untuk meningkatkan efek karena itu yang paling optimal. Itu merupakan faktor yang penting dari kesuksesan vaksinasi atau cara pemberian obat," jelasnya saat dihubungi detikcom Rabu (20/11/2021).

Hingga kini, hampir seluruh vaksin Corona menurut Prof Zullies memang perlu disuntik secara intramuskular. Termasuk vaksin Corona Sinovac, Moderna, AstraZeneca, dan Pfizer.

"Dan itu tergantung dari jenis obat atau vaksin. Nah untuk vaksin COVID-19 memang dari para pembuatnya, dari hasil penelitian mereka, cara terbaik adalah dengan menggunakan intramuskular, intramuskular itu langsung masuk ke otot, di mana di otot itu kan banyak pembuluh darah juga," lanjutnya.

"Dan itu nanti akan tersebar ke seluruh tubuh dan memicu antibodi," terangnya.

Bagaimana jika vaksin Corona yang disuntikkan tak sampai ke otot?

Prof Zullies menuturkan, bisa saja efek atau khasiat dari vaksin Corona tak optimal. Namun, kemungkinan memicu antibodi masih tetap ada.

"Kalau caranya salah ya efeknya pun tidak optimal, memungkinkan jadi gagal vaksinnya, khasiatnya tidak tercapai. Jadi mungkin ada memicu proses antibodi, tetapi tidak optimal, tidak seperti kalau diberikan secara intramuskular," pungkasnya.



Simak Video "Sejumlah Produsen Laporkan Efikasi Vaksin COVID-19, Apa Artinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)