Kamis, 21 Jan 2021 20:00 WIB

Dokter Berikan Tips Deteksi Dini Masalah Pada Pernapasan Akibat COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
COVID-19 named by WHO for Novel coronavirus NCP concept. Doctor or lab technician in PPE suit holding blood sample with novel (new) coronavirus  in Wuhan, Hubei Province, China, medical and healthcare Ilustrasi virus Corona. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn)
Jakarta -

Saat sistem pernapasan terinfeksi COVID-19, biasanya perlu pemeriksaan detail di rumah sakit untuk mengetahuinya. dr. Siti Chandra Widjanantie, SpKFR(K) selaku Konsultan Rehabilitasi Respirasi Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi, sekaligus Ketua KSM Rehabilitasi Medik RSUP Persahabatan mengatakan, biasanya gangguan respirasi ini membutuhkan beberapa tahapan pemeriksaan.

Namun, di tengah pandemi Corona ini tidak semua langkah pemeriksaan bisa dilakukan seperti biasanya. Untuk itu, dr Chandra membagikan beberapa cara sederhana untuk melakukan deteksi dini jika adanya masalah pada sistem pernapasan yang mengarah ke COVID-19.

1. Mendeteksi sesak napas

dr Chandra salah satu yang bisa dilakukan untuk deteksi kerusakan paru akibat COVID-19 sejak dini adalah menentukan apakah ada sesak napas atau tidak.

"Kami dari rehabilitasi punya skala untuk sesak napas, skalanya dari 1-10. Jika skala 5 ke atas itu sudah skala yang berat. Kalau itu sampai muncul, berarti ada yang tidak beres pernapasannya," kata dr Chandra dalam diskusi daring di YouTube BNPB, Kamis (21/1/2021).

Ia juga menjelaskan, sesak napas ini bisa saja muncul saat berdiam diri atau bahkan di tengah beraktivitas. Ini karena sesak napas tersebut bisa disebabkan karena adanya masalah pada paru ataupun jantung.

"Karena mungkin saat diam nggak apa-apa, begitu saat aktivitas muncul. Karena masalahnya mungkin paru, mungkin bisa juga dari jantung," jelasnya.

2. Deteksi happy hypoxia

Cara deteksi dini kedua yaitu dengan menggunakan alat pulse oximeter. Ini digunakan untuk mendeteksi adanya kemungkinan gejala happy hypoxia setelah terinfeksi COVID-19.

"Banyak sekali pasien kita yang mengalami ini, sampai kita katakan itu sebagai silent desaturation karena tidak tahu oksigennya turun," kata dr Chandra.

"Nah kami mengetahuinya jika dia (happy hypoxia) mengeluh capek dan lelah saat beraktivitas," lanjutnya.

Jika diperlukan, pulse oximeter ini bisa digunakan dalam keadaan diam atau setelah beraktivitas untuk memastikan apakah saturasi oksigennya tidak turun.

3. Hitung napas

Cara terakhir yang lebih mudah dilakukan adalah dengan menghitung napas. Caranya, tarik napas sambil menghitung seperti '1 dan 2 dan 3...' hingga seterusnya.

Jika hitungan bisa lebih dari angka tujuh, kemungkinan saturasi oksigennya dalam keadaan normal. Tetapi jika kurang dari tujuh, bisa menandakan bahwa saturasi oksigen mengalami penurunan.

"Caranya tarik nafas, hitung sampai angka tujuh lewat, itu biasanya saturasinya aman," ujar dr Chandra.



Simak Video "Studi Inggris: Antibodi Bisa Bertahan 6 Bulan Pasca Terinfeksi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)