Sabtu, 23 Jan 2021 05:30 WIB

Round Up

Vaksin Sinovac Berisi Virus Mati, Bukan Penyebab COVID-19 Bupati Sleman

Zintan Prihatini - detikHealth
Seorang dokter tengah menyuntikan vaksin COVID-19 di Rumah Sakit swasta daerah Jakarta Selatan, Kamis (14/1/2021). Rumah Sakit swasta ini mulai menyuntikan vaksin covid-19 bagi para Tenaga Kesehatan (Nakes) di sebagian daerah Jakarta Selatan. Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Bupati Sleman Sri Purnomo dinyatakan positif COVID-19 setelah beberapa hari disuntik vaksin COVID-19 Sinovac. Ia mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 pada 14 Januari lalu dan dinyatakan positif pada Rabu, 20 Januari 2021.

Sri Purnomo sempat mengalami gejala ringan meliputi demam hingga batuk kecil sebelum dirinya dinyatakan positif Corona. Saat ini ia tengah melakukan isolasi mandiri di rumah.

Menyusul kabar Bupati Sleman yang dinyatakan positif COVID-19 usai divaksinasi, juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menuturkan bahwa vaksin COVID-19 yang diberikan kepada Sri Purnomo berjenis inactivated, sehingga vaksin bukanlah penyebab ia terkena virus Corona.

Jika dilihat dari urutan waktunya, dr Nadia menyebut sangat mungkin Sri Purnomo disuntik vaksin saat sudah memasuki masa inkubasi, yang artinya telah terpapar virus tetapi belum bergejala. Meski begitu, kejadian ini tetap dilaporkan sebagai KIPI atau kejadian ikutan pasca imunisasi.

"Secara alamiah, waktu antara paparan dan munculnya gejala/load virus sedang tinggi adalah sekitar 5-6 hari (waktu yg pas, karena divaksin tanggal 14 Januari sementara hasil swab PCR positif tanggal 20 Januari," paparnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom pada Jumat, (22/1/2021).

Dari penjelasan tertulis pihak Kabupaten Sleman, saat ini Sri Purnomo sedang melakukan isolasi mandiri di Rumah Dinas Bupati, dan dalam kondisi yang baik serta tak bergejala apapun.

"Dari awal juga sudah ditekankan bahwa vaksinasi COVID-19 memang membutuhkan dua kali dosis penyuntikan, sebab sistem imun perlu waktu lewat paparan yang lebih lama untuk mengetahui bagaimana cara efektif melawan virus," katanya.

Suntikan pertama dilakukan untuk memicu respons kekebalan awal. Lalu suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang telah terbentuk. Hal tersebut memicu respons antibodi yang lebih cepat dan lebih efektif di masa yang akan datang.

dr Nadia menjelaskan, beberapa vaksin seperti cacar air, hepatitis A, herpes zoster (cacar ular) memerlukan dua dosis vaksin untuk pencegahannya. Vaksin lain bahkan membutuhkan dosis lebih banyak, meliputi vaksin DTaP untuk difteri, tetanus, serta pertusis.

Proses vaksinasi tetap berjalan seperti yang telah ditargetkan. dr Nadia pun berpesan, dengan adanya vaksinasi, masyarakat masih berkewajiban menjalankan protokol kesehatan.

"Karena selain tetap harus menjaga diri sendiri juga masih dibutuhkan waktu untuk bersama-sama bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mencapai kekebalan kelompok," tandasnya.



Simak Video "Satgas: Anggaran Tak Jadi Hambatan Capai Herd Immunity Lewat Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)