Senin, 25 Jan 2021 18:03 WIB

China Temukan Jejak Corona di Area Vaksinasi, Diduga Berkaitan dengan Vaksin

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Foto ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta -

Otoritas China mengatakan telah menemukan jejak virus Corona di beberapa area vaksinasi COVID-19. Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit China (CDC China) menyebut jejak virus Corona yang ditemukan ini kemungkinan terkait dengan cairan vaksin.

Dikutip dari laman Reuters, sampel yang diambil dari meja, dinding, gagang pintum dan lorong area vaksinasi terdeteksi positif COVID-19. Hanya saja CDC China menegaskan sampel tersebut tidak bersifat menular.

"Jejak tersebut memiliki urutan genom yang identik dengan strain yang ditemukan dalam botol vaksin tetapi berbeda dari strain yang saat ini menyebar," kata CDC China, pada Minggu (24/1/2021).

CDC China menambahkan bahwa pengembangan beberapa vaksin Corona memang mengandung potongan asam nukleat yang relatif lengkap dari virus dan tidak menular.

Seperti yang diketahui perusahan farmasi China yakni Sinovac dan Sinopharm mengembangkan vaksin Corona dengan inactivated virus atau vaksin yang sudah dalam keadaan dilemahkan.

Benjamin Cowling, seorang ahli penyakit menular dari Universitas Hong Kong, mengonfirmasi kemungkinan kontaminasi di area dari cairan vaksin dan mengatakan jejak virus semacam itu "tidak perlu dikhawatirkan."

Staf di area vaksinasi yang terkontaminasi telah dites negatif virus, kata CDC China.



Simak Video "CDC China: Peningkatan Kasus Corona Tak Hanya Gegara Mutasi Virus"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)