Kamis, 28 Jan 2021 08:08 WIB

Deretan Gejala yang Sering Dialami Saat Terinfeksi Varian Baru Corona Inggris

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Sebuah studi menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi varian baru Corona di Inggris sering mengalami gejala seperti batuk, sakit tenggorokan, dan kelelahan. Tetapi, untuk gejala kehilangan kemampuan indra penciuman dan perasa jarang terjadi.

Dari survei yang dilakukan Kantor Statistik Nasional (ONS) menunjukkan orang yang terinfeksi varian ini lebih banyak mengeluhkan gejala batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, dan nyeri otot. Survei tersebut dilakukan dengan bertanya pada pasien-pasien positif Corona antara 15 November 2020 hingga 16 Januari 2021.

Perbedaan gejala ini kemungkinan dipengaruhi oleh varian virus yang lebih menular dan lebih cepat menyebar di tubuh, dibandingkan dengan varian virus sebelumnya. Tetapi, sampai saat ini masih belum diketahui sebenarnya bagaimana dampak varian tersebut pada tubuh yang terinfeksi.

"Kehilangan kemampuan perasa dan penciuman ini secara signifikan kurang umum dialami pada mereka yang positif terinfeksi varian baru Corona, tetapi umum dialami mereka yang terinfeksi varian yang lama," tulis ONS yang dikutip dari The Guardian, Kamis (28/1/2021).

Namun, survei ini tidak menemukan bukti adanya perbedaan untuk gejala COVID-19 lainnya seperti gastrointestinal, sesak napas, atau sakit kepala.

Menurut profesor onkologi molekuler di University of Warwick Lawrence Young, mutasi virus Corona Inggris ini bisa mempengaruhi gejala yang muncul. Ini mungkin terjadi karena varian baru Corona ini lebih mudah menular dan membuat orang yang terinfeksi memiliki jumlah virus yang lebih tinggi.

"Ini bisa menyebabkan infeksi terjadi lebih luas di dalam tubuh dan menyebabkan gejala batuk, nyeri otot, serta kelelahan lebih meningkat. Varian ini memiliki mutasi yang lebih banyak, sehingga bisa mempengaruhi respons kekebalan tubuh dan rentang gejala yang muncul," jelas Profesor Young.

Selain itu, para ilmuwan di New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (Nervtag) pemerintah menyimpulkan bahwa varian baru Corona yang ada saat ini bisa meningkatkan tingkat kematian 30-40 persen. Meski alasannya belum jelas, tetapi ini mungkin berkaitan dengan mutasi N501Y, yang membuat virus lebih mudah menginfeksi sel tubuh dan 70 persen lebih menular.



Simak Video "Varian Baru Corona Muncul, Warga Diharapkan Tetap Terapkan 3M"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)