Sabtu, 30 Jan 2021 06:55 WIB

Dokter Ungkap Alasan Mau Divaksin Meski Tak Dijamin Akan Kebal COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Petugas medis memberikan vaksin Sinovac kepada Tenaga Kesehatan Puskesamas Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (14/1). Pada hari pertama pemberian vaksin Sinovac, terdapat 11 orang tenaga kesehatan yang disuntik vaksin di Puskesma Kecamatan Cilincing. Virus Corona COVID-19 (Foto: Pradita Utama)
Topik Hangat Siap Divaksin!
Jakarta -

Program vaksinasi COVID-19 di Indonesia sudah dimulai. Vaksinasi diharapkan bisa menjadi salah satu cara untuk mengakhiri pandemi COVID-19 yang saat ini sudah makan banyak korban.

Sudah banyak dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang menerima dosis pertama vaksin COVID-19 Sinovac, salah satunya dr Vito A Damay, SpJP, spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Karawaci.

Dokter yang aktif membagikan informasi kesehatan di akun media sosial pribadinya ini juga mengungkap apa yang ia rasakan seusai vaksinasi. Kata dia, vaksinasi COVID-19 yang ia jalani berlangsung sangat cepat dan nyaman dan tak ada keluhan setelahnya.

"Habis vaksinasi langsung praktek lagi sih, baik-baik saja. Setelah vaksin rasanya ingin makan nasi padang pakai rendang dan serundeng," kelakarnya saat berbincang dengan detikcom, Jumat (29/1/2021).

Vaksin COVID-19 Sinovac memiliki efikasi sekitar 64 persen di Indonesia. Artinya, mereka yang divaksin pun masih memiliki kemungkinan untuk tertular penyakit tersebut.

Vaksin tentu bukan 'barang ajaib' yang bisa langsung membasmi COVID-19. Hanya saja, dengan vaksinasi, diharapkan angka kesakitan dan kematian akibat Corona bisa berkurang.

"Perlu diluruskan bahwa meskipun vaksin tidak mencegah kita seratus persen tertular COVID, tapi vaksin ini mencegah kita mendapat sakit yang berat akibat COVID-19," bebernya.

Artinya, papar dr Vito, kalaupun tertular COVID-19 usai vaksinasi, pasien hanya mengembangkan gejala ringan atau asimptomatik. Hal ini akan mengurangi kebutuhan perawatan di RS yang sekarang sudah penuh sesak.

Vaksinasi bisa kurangi beban nakes-faskes

Tak hanya COVID-19, tenaga kesehatan juga harus merawat pasien lain yang membutuhkan penanganan segera misalnya pasien emergensi serangan jantung, kanker, atau sakit ginjal. Namun beberapa rumah sakit dilaporkan sudah penuh dengan pasien COVID-19 atau pasien suspek.

Akhirnya banyak pasien yang harus mengantre karena UGD penuh. Ironisnya, dr Vito mengatakan banyak pasien komorbid yang bahkan tak bisa masuk RS karena kapasitas sudah tak memadai.

Bahkan saking penuhnya rumah sakit, ada pasien yang sampai diperiksa di mobilnya sendiri di depan meja sekuriti IGD. Cerita selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Begini Cara Aman Menyusui Bayi dari Ibu yang Positif Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
Topik Hangat Siap Divaksin!