Senin, 01 Feb 2021 12:00 WIB

Sama-sama Dipakai di RI, Ini Beda Vaksin COVID-19 AstraZeneca Vs Sinovac

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Vaksinasi Corona secara nasional untuk para nakes dimulai. Berikut foto-foto vaksinasi di kawasan Depok dan Solo. Foto: Tim detikcom

- Metode pengembangan

AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca-Oxford dengan nama AZD1222 dikembangkan dengan platform adenovirus. Tim pengembang vaksin mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Singkatnya, AstraZeneca mengembangkan vaksin dengan virus yang biasanya menyasar simpanse dan kemudian dimodifikasi secara genetis untuk merespon protein pada virus COVID-19 di tubuh manusia.

Sinovac

Metode pembuatan vaksin yang digunakan oleh Sinovac yakni dengan inactivated virus atau virus yang dimatikan (bukan dilemahkan). Inaktivasi adalah metode pembuatan vaksin dengan menggunakan versi tidak aktif dari jenis virus atau bakteri penyebab penyakit tertentu.

Jenis vaksin ini biasanya perlu beberapa dosis atau suntikan untuk mengembangkan antibodi atau kekebalan yang diinginkan. Beberapa jenis vaksin yang menggunakan metode inaktivasi sebelumnya adalah vaksin hepatitis A, vaksin flu, polio, dan rabies.

- Efek samping

AstraZeneca

Pada uji klinis, relawan melaporkan beberapa efek samping atau reaksi pasca suntikan, di antaranya nyeri di bagian lengan, sakit kepala, kelelahan, malaise, demam, hingga mual.

Mayoritas reaksi ringan sampai sedang dan biasanya sembuh dalam beberapa hari setelah vaksinasi. Jika dibandingkan dengan dosis pertama, reaksi yang dilaporkan setelah dosis kedua lebih ringan dan lebih jarang dilaporkan.

Sinovac

Uji klinis di Bandung menunjukkan vaksin CoronaVac aman dengan kejadian efek samping yang ditimbulkan ringan hingga sedang, yaitu efek samping lokal berupa nyeri, iritasi, pembengkakan, serta efek samping sistemik berupa nyeri otot, fatigue, dan demam.

Frekuensi efek samping dengan derajat berat sakit kepala, gangguan di kulit, atau diare yang dilaporkan hanya sekitar 0,1 -1 persen.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Epidemiolog: Dosis Ketiga Sinovac Baiknya Diberikan Setelah 6 Bulan"
[Gambas:Video 20detik]

(kna/up)