Kamis, 18 Feb 2021 08:15 WIB

Diklaim Efek Samping Ringan, Berapa Harga Vaksin Nusantara dr Terawan?

Angling Adhitya Purbaya - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara (Foto: Angling/detikHealth)
Semarang -

Uji klinis fase I dari Vaksin Nusantara dengan 27 relawan sudah terlewati. Saat ini fase kedua uji klinis vaksin yang diprakarsai oleh mantan Menkes Terawan Agus Putranto ini akan dilaksanakan dengan jumlah relawan sebanyak 180 orang.

Salah satu peneliti, Dr Yetty Movieta Nency SPAK mengatakan proses awal pengembangan vaksin sudah dimulai Oktober 2020. Pada 23 Desember 2020 hingga 6 Januari 2021 dilakukan penyuntikan pada subyek untuk uji klinis I.

"Ini selesai di akhir Januari. Proses fase dua setelah dapatkan persetujuan BPOM. Hasil Alhamdulillah dari 27 subyek, 20 keluhan ringan. Ada keluhan sustemik dan lokal. Hanya ada 20 keluhan. Ringan dan membaik tanpa obat. Sama kayak vaksin lain. Efektivitasnya ada peningkatan antibodi pada minggu keempat," kata Yetty di RSUP dr Kariadi Semarang, Rabu (17/2/2021).

Fase selanjutnya, jelas Yetty, juga masih soal keamanan Vaksin Nusantara tapi dengan subjek lebih banyak yaitu 180 orang. Kemudian fase III ada juga penentuan dosis dan dilakukan terhadap 1.600 orang. Relawan vaksin datang dari berbagai kalangan dengan rentang umur 18-59 tahun.

"Fase satu untuk safety. Aman tidak. Kedua untuk menentukan keamanan dan efektivitas tapi belum detil. Bagus ada kenaikan antibodi, tapi yang penting aman. Fase ketiga semuanya. Kemudian menentukan dosis mana yang tepat," ujarnya.

vaksin nusantaraDr Yetty Movieta Nency, peneliti vaksin nusantara. Foto: Angling/detikHealth

Terkait keluhan subyek vaksinasi pada fase pertama, keluhan sistemik yang dirasakan 20 subyek yaitu:

  • nyeri otot
  • nyeri sendi
  • lemas
  • mual
  • demam
  • menggigil.

Sebanyak 8 orang di antaranya mengalami keluhan lokal berupa nyeri lokal, kemerahan, pembengkakan, penebalan, serta gatal pada titik suntik. Namun semuanya bisa sembuh tanpa obat.

"Kesimpulan keamanan fase 1 adalah tidak didapatkan kejadian serious adverse event pada seluruh subjek fase 1. Pada pengamatan 4 minggu setelah vaksin semua subyek mengalami kenaikan titer AB yang bervariasi antar invididu/grup perlakuan," ujar Yetty pada paparannya.

Vaksin Nusantara ditarget rampung dalam setahun dan diperkirakan akan dipasarkan di harga Rp 200 ribu. Selengkapnya di halaman berikut.

Kapan Vaksin Nusantara itu bisa rampung dan diedarkan? Ia menjelaskan target evaluasi yaitu satu tahun, namun dimasa pandemik saat ini dipercepat.

"Target evaluasi satu tahun. Dalam pandemik dipercepat. Kalau menunggu satu tahun lagi korban terlanjur banyak. Di kondisi pandemik ini dipercepat, maka masyarakat harusnya mendukung," katanya.

Sementara itu untuk harga, Yetty menjelaskan diperkirakan harganya berkisar USD 10 per vaksin atau di bawah Rp 200 ribu.

"Murah, sekitar 10 USD, sekitar di bawah Rp 200 ribu, setara vaksin lain," tandasnya.

Untuk diketahui Vaksin Nusantara yaitu vaksin yang dikembangkan dengan mengambil sel dendritik dari orang yang akan divaksin. Setelah melalui masa inkubasi dan diolah, vaksin akan disuntikkan kembali sehingga sifatnya personalized atau perorangan.

Publikasi data riset

Pakar biologi molekular Ahmad Rusdan Utomo menyebut, teknologi sel dendritik terbilang rumit sehingga tidak digunakan pada pengembangan vaksin COVID-19 lainnya. Diklaim, vaksin Nusantara merupakan vaksin COVID-19 pertama di dunia yang menggunakan teknologi ini.

Pengembangan teknologi sel dendritik menurut Ahmad sebenarnya dilakukan juga pada terapi kanker. Karenanya, publikasi data vaksin Nusantara dinilainya penting agar lebih bermanfaat.

"Yang kita perlu lihat, coba ditampilkan datanya dulu. Itu kuncinya di situ," katanya.



Simak Video "Ibu Hamil Jangan Ragu untuk Vaksinasi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)