Kamis, 18 Feb 2021 21:29 WIB

Vaksin Nusantara dr Terawan dalam Pantauan BPOM, Jateng Beri Dukungan

Angling Adhitya Purbaya - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara (Foto: Angling/detikHealth)
Semarang -

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendukung pengembangan Vaksin COVID-29 buatan anak bangsa yaitu Vaksin Nusantara yang saat ini terus diteliti tim dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan RSUP dr Kariadi Semarang. Jika sudah lolos uji, Ganjar menegaskan siap membantu penggunaan untuk masyarakat.

"Tentu saya siap dan mendukung penuh. Kalau nanti itu sudah diuji, seperti GeNose dulu, kami siap menggunakannya. Tinggal nanti dari industrinya seberapa bisa melakukan itu," kata Ganjar di Semarang, Kamis (18/2/2021).

Selain itu Ganjar juga bersedia jika tim peneliti membutuhkan tempat lain untuk perkembangan penelitian. Ia berjanji akan menyediakannya sehingga proses penelitian bisa cepat.

"Kalau nanti umpama butuh tempat lain untuk penelitian, umpama butuh rumah sakit lain sebagai tempat riset, saya siap mendukung penuh. Tujuh rumah sakit daerah milik Pemprov akan saya berikan semuanya untuk itu," tandasnya.

Menurutnya vaksin buatan anak bangsa perlu dikawal terlebih lagi vaksin tersebut dikembangkan di Jawa Tengah. Ganjar juga sudah berbicara dengan mantan Menkes, Terawan Agus Putranto selalu pemrakarsa vaksin itu.

"Apalagi ini dari Jawa Tengah, menurut saya ini sangat penting untuk dikawal. Saya sudah ketemu dengan Pak Terawan dan beliau sudah menceritakan hal ini. Dari ceritanya, metode dan metodologi penggunaannya, vaksin ini jauh lebih aman," katanya.

"Artinya, proses-proses yang sudah berjalan dan hasilnya bagus, pemerintah mesti memproteksi, negara harus memproteksi ini sehingga kita bisa mandiri. Dengan begitu, maka kita tidak akan terus bergantung pada negara lain," imbuh Ganjar.

Untuk diketahui Vaksin Nusantara sudah menyelesaikan uji klinis tahap I dengan jumlah relawan yang disuntik 27 orang. Uji klinis pertama tersebut untuk memastikan keamanan dan hasilnya menurut tim peneliti sudah bagus.

Cara kerja vaksin tersebut yaitu sel dendritik autolog yang diambil dari orang yang akan divaksin dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2 di laboratorium. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2.

"Di laboratorium sel dendritik dikenalkan dengan rekombinan dari virus SARS-cov-2. Sel dendritik jadi pintar mengetahui dan antisipasi virus dan disuntikkan kembali. Kelebihannya tidak ada komponen virus ke tubuh manusia," kata salah satu peneliti Vaksin Nusantara, Dr. Yetty Movieta Nency SPAK hari Rabu (17/2) kemarin.

Sel dendritik diambil dari masing-masing orang yang akan divaksin sehingga bersifat personalized. Hal itulah yang juga menjadi kelebihan karena bisa digunakan untuk orang-orang yang tidak bisa masuk kriteria vaksinasi dari vaksin lain.

"Kelebihannya alternatif untuk orang-orang yang tidak masuk pada vaksin yang sudah beredar. Misal penyakit berat, mengalami kanker dan lainnya, dengan vaksin dendiritik dimungkinkan bisa," tegasnya.

Dalam pantauan BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengaku tengah memantau proses pengembangan vaksin Nusantara. Uji klinis fase I disebut sudah selesai, namun masih perlu dipantau.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Subdirektorat Penilaian Uji Klinik dan Pemasukan Khusus BPOM Siti Asfijah Abdoellah, Kamis (18/2/2021).

"Tentu kami sedang berproses sedang data hasil fase I yang diserahkan oleh peneliti tentu untuk dapat lanjut uji klinis Fase II, harus dipastikan data uji Fase I dipenuhi kebutuhannya," jelasnya.

Sementara itu, pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo menilai teknologi sel dendritik terlalu rumit untuk vaksin COVID-19, sehingga tidak dipakai di negara lain. Namun teknologi ini memang dipakai dan dikembangkan, antara lain untuk terapi kanker.

"Yang kita perlu lihat, coba ditampilkan datanya dulu. Itu kuncinya di situ," kata Ahmad.



Simak Video "Studi Inggris: Antibodi Bisa Bertahan 6 Bulan Pasca Terinfeksi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)