Sabtu, 20 Feb 2021 06:54 WIB

Menko PMK Sebut Vaksin Nusantara Tak Pakai APBN: Pak Terawan yang Tahu

Bayu Ardi Isnanto - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara (Foto: Angling/detikHealth)

Cara kerja vaksin tersebut yaitu sel dendritik autolog yang diambil dari orang yang akan divaksin dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2 di laboratorium. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2.

"Di laboratorium sel dendritik dikenalkan dengan rekombinan dari virus SARS-cov-2. Sel dendritik jadi pintar mengetahui dan antisipasi virus dan disuntikkan kembali. Kelebihannya tidak ada komponen virus ke tubuh manusia," kata salah satu peneliti Vaksin Nusantara, Dr. Yetty Movieta Nency SPAK hari Rabu (17/2) kemarin.

Sel dendritik diambil dari masing-masing orang yang akan divaksin sehingga bersifat personalized. Hal itulah yang juga menjadi kelebihan karena bisa digunakan untuk orang-orang yang tidak bisa masuk kriteria vaksinasi dari vaksin lain.

"Kelebihannya alternatif untuk orang-orang yang tidak masuk pada vaksin yang sudah beredar. Misal penyakit berat, mengalami kanker dan lainnya, dengan vaksin dendiritik dimungkinkan bisa," tegasnya.

Dibiayai Litbangkes Kemenkes

Peneliti vaksin Nusantara, Dr Yetti Movieta Nency mengatakan vaksin ini mulai dikembangkan Oktober 2020. Uji klinis dilakukan pada 23 Desember 2020 hingga 6 Januari 2021 dengan melibatkan 27 subjek uji.

"Hasil Alhamdulillah dari 27 subyek, 20 keluhan ringan. Ada keluhan sustemik dan lokal. Hanya ada 20 keluhan. Ringan dan membaik tanpa obat. Sama kayak vaksin lain. Efektifitasnya ada peningkatan antibodi pada minggu keempat," jelasnya, Rabu (17/2/2021).

Selanjutnya, uji klinis fase II akan dilakukan setelah mendapat persetujuan BPOM dengna melibatkan 180 subjek uji untuk melihat keamanan dan efektivitas. Fase III direncanakan akan melibatkan 1.600 subjek uji dengan rentang usia 18-59 tahun.

Soal pembiayaan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan dr Slamet membenarkan adanya kerja sama dengan vaksin Nusantara.

"Jawabannya iya kita yang membiayai," demikian konfirmasi dr Slamet dalam konferensi pers FKUI terkait Studi Recovery di Indonesia Jumat (19/2/2021).

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Potret Moeldoko Saat Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan"
[Gambas:Video 20detik]

(up/up)