Rabu, 24 Feb 2021 15:55 WIB

Menkes: Vaksin Tidak Hanya untuk Melindungi Diri Sendiri!

Yudistira Imandiar - detikHealth
Kemenkes Foto: Kemenkes
Jakarta -

Vaksinasi Nasional COVID-19 telah dimulai sejak Januari 2021. Penyuntikan vaksin ini menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk keluar dari situasi pandemi.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menerangkan program vaksinasi membutuhkan partisipasi kolektif dari seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, program vaksinasi bukanlah upaya pencegahan COVID-19 hanya bagi individu, tapi juga bertujuan membentuk kekebalan kelompok.

Dalam talkshow spesial HUT ketiga Radio Kesehatan, Budi mengulas berdasarkan arahan dari para ahli epidemiologi, kekebalan kelompok baru bisa terbentuk jika jumlah masyarakat yang menerima vaksin sudah di atas 70 persen dari total populasi. Kekebalan kelompok itu penting untuk melindungi orang yang telah divaksin maupun orang yang tidak dapat menerima vaksin dari penularan COVID-19.

Budi menyebut kelompok masyarakat yang tidak dapat menerima vaksin, lantaran riwayat kesehatan atau alasan lainnya membutuhkan perlindungan dari kelompok. Oleh sebab itu masyarakat yang memenuhi kriteria, sangat dianjurkan untuk menjalani vaksinasi.

"Vaksin ini bukan hanya melindungi diri kita saja, tapi juga melindungi keluarga kita melindungi tetangga kita, melindungi rakyat Indonesia. Terutama orang orang yang tidak sekuat kita, contoh orang (tua) renta, orang dengan komorbid, orang yang tidak bisa divaksin. Orang ini kasihan kan kalau mereka tidak bisa divaksin kemudian banyak orang tidak mau divaksin, kemudian menularkan ke orang-orang ini bisa fatal. (Program vaksinasi ini) misi sosialnya lebih besar daripada misi individualnya," kata Budi dalam perbincangan di Radio Kesehatan, Selasa (23/2/2021).

Dalam sesi talkshow lainnya di Radio Kesehatan, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan drg Oscar Primadi menegaskan agar tidak ada lagi penyebaran informasi hoax mengenai penanganan pandemi COVID-19, termasuk soal vaksinasi. Ia mengajak setiap individu untuk menghadapi pandemi dengan cara yang positif.

Oscar menambahkan program vaksinasi merupakan wujud dari kehadiran negara untuk menyelamatkan rakyatnya dari situasi pandemi. Begitu pula dengan arahan yang diberikan pemerintah, seperti protokol kesehatan 3M dan 5M, merupakan upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari penularan COVID-19.

"Tidak ada alasan kita untuk saling menjelek-jelekkan, menghujat, membuat hoax tak bertanggung jawab, lalu mudah men-share sesuatu yang tidak baik. Saya berharap kita patuhi bersama-sama, kita bergerak kepada kebaikan tadi," pesan Oscar.

Juru Bicara Vaksin COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menyampaikan, program vaksinasi telah berjalan. Hampir 1,3 juta tenaga kesehatan telah mendapatkan suntikan vaksin tahap pertama. 700 ribu di antaranya pun telah merampungkan penyuntikan vaksinasi dosis kedua.

Nadia menguraikan sesuai target yang ditetapkan, ada 1,46 juta tenaga kesehatan yang menerima vaksinasi. Untuk itu, ia mengajak para tenaga kesehatan yang belum mendapatkan vaksin karena berbagai faktor, antara lain tekanan darah tinggi, menyusui, atau penyintas COVID-19 untuk segera mengikuti program vaksinasi.

"Kami mengimbau petugas kesehatan tenaga kesehatan yang sempat ditunda vaksinasi karena kondis-kondisi tadi, penyintas covid, menyusui, tekanan darah tinggi untuk segera kembali ke fasyankes untuk mendapatkan vaksinasi. Karena saat ini dengan metode skrining yang baru, kondisi-kondisi tersebut sudah bisa mendapatkan vaksinasi," jelas Nadia dalam talkshow di Radio Kesehatan.

Ia melanjutkan, vaksinasi untuk kelompok kedua, yakni masyarakat berusia di atas 60 tahun dan pemberi layanan publik telah dimulai sejak 17 Februari. Para pedagang di Tanah Abang yang termasuk pemberi layanan publik menjadi bagian dari penerima vaksin kelompok kedua ini.

Pada Selasa (23/2), pemberian vaksin untuk tokoh lintas agama telah dimulai, ditandai dengan penyuntikan vaksin untuk para tokoh agama di Masjid Istiqlal, Jakarta. Para pemuka dari berbagai agama, guru, dosen, penyuluh agama, akan mendapatkan vaksinasi di tahap ini.

"Kita targetkan para tokoh agama termasuk para penyuluh agama, pendidik, guru, dosen ini masuk di tahap kedua. Kemudian ada atlet, dan pekerja pariwisata, ada pekerja transportasi publik, ada juga petugas damkar, aparat perangkat desa, petugas keamanan, pejabat negara, ASN, wakil negara," rinci Nadia.

Ia mengungkapkan vaksinasi untuk pemberi layanan publik dan lansia di atas 60 tahun ditargetkan rampung paling telat akhir April atau awal Mei 2021.



Simak Video "Menkes Sebut RI Kekurangan Perawat Untuk Antisipasi Lonjakan Kasus"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)