Sabtu, 27 Feb 2021 07:45 WIB

Beredar Mitos Vaksin COVID-19 Bikin Mandul, Ini Faktanya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Vaksinator menyuntikan vaksin Covid-19 kepada jurnalis di Gedung Penunjang KPK Merah Putih, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Selain kepada jurnalis, KPK juga memberikan vaksin Covid-19 kepada pegawai, tahanan serta pihak eksternal di lingkungan KPK. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Program vaksinasi COVID-19 telah dimulai di beberapa negara. Beberapa kelompok rentan sudah mulai disuntik vaksin agar mereka membentuk antibodi untuk melawan virus Corona.

Hanya saja banyak yang merasa takut divaksin terutama dengan beredarnya misinformasi, salah satunya terkait vaksin COVID-19 bisa menyebabkan kemandulan. Adanya kabar ini membuat banyak wanita muda khawatir yang akhirnya membuat mereka melewatkan vaksinasi.

Kabar vaksin COVID-19 menyebabkan kemandulan pertama kali muncul pada Desember tahun lalu. Disebutkan bahwa kandungan yang ada pada vaksin dapat menyerang protein penting yang dibutuhkan dalam perkembangan plasenta.

Direktur program imunisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Kate O'Brien, kembali menegaskan bahwa rumor itu keliru.

"Vaksin yang diberikan ke orang-orang tidak bisa menyebabkan kemandulan. Ini adalah rumor lama yang sering muncul juga pada banyak vaksin lain dan selama ini tidak pernah terbukti kebenarannya," kata Kate seperti dikutip dari halaman resmi Twitter WHO.

Desas-desus ini didasarkan pada messenger RNA dalam vaksin dapat menyebabkan kemandulan dengan secara tidak sengaja menyerang protein di dalam plasenta, karena struktur protein spike-nya mirip. Namun, keduanya dipastikan adalah struktur yang sangat berbeda.

Association of Reproductive and Clinical Scientists dan British Fertility Society juga baru-baru ini menerbitkan jurnal yang menyebut tidak ada kaitan antara vaksin dan infertilitas.

Beragam studi telah menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 yang telah mendapat izin terbukti dapat memberikan efek perlindungan. Orang yang divaksinasi dapat mencegah infeksi yang menimbulkan gejala sedang hingga parah.



Simak Video "Cuma Punya 37 Dokter, Bhutan Vaksinasi 470 Ribu Orang dalam 9 Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)