Senin, 01 Mar 2021 11:15 WIB

WHO Sebut Dunia akan Sulit Pulih dari COVID-19, Ini Sebabnya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Director General of the World Health Organization (WHO), addresses a press conference about the update on COVID-19 at the World Health Organization headquarters in Geneva, Switzerland, Monday, Feb. 24, 2020. (Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP) WHO menyebut dunia akan sulit pulih dari COVID-19 dalam waktu dekat meski sudah ada vaksin. (Foto ilustrasi: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)
Jakarta -

Vaksin COVID-19 telah memberikan harapan baru bagi dunia untuk mengatasi pandemi Corona. Namun, kenyataannya vaksin ini tak dapat langsung menyelesaikan masalah.

Sejumlah negara kini tengah menggencarkan vaksinasi COVID-19, termasuk Indonesia. Namun, keadaan darurat pandemi membuat sebagian negara berlomba-lomba dalam mendapatkan vaksin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan situasi 'berebut' vaksin seperti ini dapat mengancam program COVAX untuk memastikan negara-negara miskin dan berpenghasilan rendah mendapatkan vaksin COVID-19 secara adil.

Pasalnya, tak sedikit negara kaya yang secara agresif membuat kesepakatan langsung dengan perusahaan farmasi demi mendapatkan vaksin COVID-19.

"Sekarang, beberapa negara masih mengejar kesepakatan yang akan membahayakan pasokan COVAX. Tanpa ragu," ucap penasihat senior WHO Bruce Aylward, dikutip dari Reuters.

WHO pun telah meminta kepada para negara kaya untuk membagi vaksin COVID-19 secara adil, supaya proses vaksinasi di seluruh dunia dapat berjalan beriringan.

Namun, rencana COVAX untuk membagikan sebanyak 1,3 juta miliar dosis vaksin COVID-19 ke negara-negara miskin dan berkembang di tahun ini pendistribusiannya masih sangat lambat.

Apabila hal ini masih terus berlanjut, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dunia tak akan pulih dari COVID-19 dalam waktu dekat tanpa adanya ketersediaan vaksin yang mencukupi.

"Kami tidak bisa mengalahkan COVID tanpa ekuitas vaksin. Dunia tidak akan pulih dalam waktu cepat tanpa ekuitas vaksin, ini jelas," kata Tedros.

"Kami telah membuat kemajuan besar. Tapi kemajuan ini rapuh. Kami perlu mempercepat pasokan dan distribusi vaksin COVID-19. (Namun) kami tidak dapat melakukannya jika beberapa negara terus mendekati produsen yang memproduksi vaksin yang diandalkan COVAX," ungkapnya.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)