Selasa, 02 Mar 2021 05:25 WIB

Belum Jadi Terapi Standar COVID-19, Apa Saja Syarat Donor Plasma Konvalesen?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Terapi plasma konvalesen menjadi salah satu metode penyembuhan pasien COVID-19. Seperti apa cara kerja terapi plasma konvalesen ini? Donor plasma konvalesens (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta -

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menjadi donor plasma konvalesen pasca dinyatakan sembuh dari COVID-19. Ini menjadi pengalaman pertama Doni mendonorkan plasmanya untuk menolong para pasien COVID-19.

"Ini adalah pertama kali saya menjadi donor plasma konvalesen, sejak tanggal 12 Februari yang lalu saya dinyatakan negatif COVID-19. Setelah saya juga dirawat selama 20 hari," kata Doni dalam talkshow perkembangan penggunaan plasma konvalesen di YouTube BNPB, Senin (1/3/2021).

Apa saja persyaratan untuk donor plasma konvalesen?

Menanggapi hal ini, Ketua Bidang Unit Donor Darah PMI Pusat dr Linda Lukitari Waseso menjelaskan beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi donor plasma konvalesen.

"Jadi donor plasma konvalesen itu susah-susah gampang ya, yang penting itu ada titer antibodi sebenarnya. Ini hampir sama dengan donor reguler (umum)," kata Dr Linda.

Berikut persyaratan umum menjadi donor plasma konvalesen:

  • Badan harus sehat
  • Umur 18-60 tahun
  • Berat badan harus lebih dari 55 kilogram

Selain persyaratan umum, ada juga beberapa persyaratan khusus untuk donor plasma konvalesen salah satunya harus pulih dari COVID-19.

"Jadi, dia harus pulih dari salah satu penyakit yaitu COVID-19. Dia harus pernah terinfeksi COVID-19 dan sembuh, serta ini dinyatakan secara dokumentasi itu melalui administrasi juga tes PCR-nya harus sudah negatif," jelas Dr Linda.

"Kemudian jika mau jadi donor, 14 hari setelah sembuh tidak boleh ada gejala sakit apapun," lanjutnya.

dr Linda menjelaskan, apa yang dilakukan PMI untuk donor plasma konvalesen ini sudah sangat sesuai dengan rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk pemeriksaan antibodi. Tetapi, untuk mereka yang tidak bergejala, dianjurkan melakukan donor plasma konvalesen tersebut.

"Jadi memang tidak bisa orang tanpa gejala, kadang-kadang itu bukan berati tidak ada titer antibodinya. Ada, tapi mungkin tidak mencukupi," ujarnya.

Untuk itu, sebelum melakukan donor plasma konvalesen sampel darah penyintas akan diambil dan di skrining atau pre-skrining. Selain diperiksa titer antibodinya, mereka juga akan diperiksa apakah ada infeksi menular karena transfusi darah.

"Itu selain diperiksa titer antibodinya, juga diperiksa infeksi menular karena transfusi darah, yaitu hepatitis B, hepatitis C, sifilis, maupun HIV/AIDS. Jadi, ada persyaratan yang administrasi maupun laboratorium," jelas dr Linda.

Sementara itu, deputi bidang penelitian translasional Lembaga Biologi Molekular Eijkman David Handojo Muljono menyebut terapi donor plasma konvalesens untuk COVID-19 masih dalam tahap uji klinis. Karenanya, belum menjadi terapi standar.

"Pengobatan konvalesen ini bukan merupakan terapi standar, jadi izinnya adalah izin EUA, emergency use authorization," jelasnya.



Simak Video "Unsur Penting pada Plasma Konvalesen untuk Sembuhkan Pasien Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)