Selasa, 02 Mar 2021 14:06 WIB

Setahun Corona RI

Lawan Pandemi COVID-19, Ini 5 Inovasi Peneliti Indonesia

Firdaus Anwar - detikHealth
Kemenristek menyerahkan alat GeNose C19 buatan UGM ke Menko PMK, Muhadjir Effendy. Dalam kesempatan itu, Muhadjir berharap alat tersebut dapat diproduksi massal GeNose yang bisa deteksi kasus COVID-19 lewat tes napas. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Untuk menghadapi pandemi COVID-19, para peneliti di Indonesia terus berupaya melakukan inovasi. Hal ini dilakukan agar Indonesia bisa lebih mandiri dalam menghadapi pandemi, tidak harus selalu bergantung pada dunia internasional.

Dalam peringatan setahun Corona di Indonesia, Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro merangkum beberapa contoh inovasi para peneliti Indonesia yang sudah diterapkan secara luas. Mulai dari alat tes sampai alat perawatan.

Berikut contoh 5 inovasi tersebut:

1. Rapid test antibody

Di awal pandemi COVID-19, Indonesia sempat harus mengimpor alat rapid test antibody agar bisa melakukan screening kasus. Menurut Bambang kala itu karena terburu-buru tidak ada peninjauan, sehingga mungkin timbul pernyataan terkait kualitas alat tes yang diimpor.

Hingga akhirnya para peneliti berusaha menciptakan alat rapid test antibody buatan lokal.

"Yang luar biasa hanya dalam kira-kira tiga sampai empat bulan kita sudah melahirkan paling tidak rapid test antibody dari nol. Oleh para peneliti yang waktu itu terdiri dari UGM, Unair, dan kemudian didukung penuh BPPT serta dihilirisasi Hepatika Mataram," kata Bambang.

2. Rapid test antigen

Inovasi berikutnya yang juga disebut adalah alat rapid test antigen. Alat Rapid Test Antigen besutan Universitas Padjadjaran (Unpad) yang diberi nama Si CePAD ini dibanderol harga Rp 120 ribu.

Kini rapid test antigen bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis COVID-19 di puskesmas-puskesmas.

3. Ventilator

Berbagai inovasi ventilator dilaporkan oleh Kemenristek/BRIN. Ventilator sendiri merupakan alat kesehatan yang biasa dipakai untuk membantu pasien kesulitan bernapas.

Salah satu contoh inovasi ini adalah ventilator portabel Vent-I buatan peneliti di Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan YPM Salman.

"Kita melihat sangat kurangnya ventilator di berbagai fasilitas kesehatan di negara kita. Dengan tekad semangat luar biasa akhirnya beberapa institusi perguruan tinggi, lembaga, serta perusahaan melahirkan berbagai macam ventilator," kata Bambang.

"Dengan keberadaan ventilator tersebut berarti sekali lagi upaya kita mengurangi ketergantungan impor alat kesehatan dan obat berhasil dilakukan," pungkasnya.

4. GeNose

Inovasi terbaru yang kini juga sudah mulai diterapkan secara luas adalah alat screening COVID-19 lewat tes napas bernama GeNose. Alat ini dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Universitas Gadjah Mada (UGM).

Rencananya pemerintah menerapkan GeNose di beberapa stasiun dan bandara dalam rangka meningkatkan upaya tracing.

5. Mobile BSL-2

Mobile Laboratory Biosafety Level-2 (Mobile BSL-2) merupakan bus yang sudah dimodifikasi sehingga bisa berfungsi menjadi laboratorium berjalan. Inovasi ini digunakan terutama untuk membantu meningkatkan kapasitas pengujian sampel COVID-19 di daerah-daerah.



Simak Video "Setahun Corona, Pasien 01 RI Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)