Rabu, 03 Mar 2021 10:11 WIB

Diklaim Tak Berkaitan, Ahli Selidiki Kematian Lansia Jepang Usai Vaksin Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Foto kolase dari ilustrasi masker dan vaksin pfizer Vaksin Corona buatan Pfizer. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Seorang wanita Jepang berusia sekitar 60 tahun meninggal karena pendarahan otak tiga hari setelah menerima vaksinasi COVID-19 Pfizer. Meski demikian Kementerian Kesehatan Jepang meyakini tidak ada hubungan antara pemberian vaksin dan pendarahan otak yang dialami oleh lansia tersebut.

"Pendarahan otak yang terjadi diduga karena hal yang biasa pada orang-orang dengan usia 40 hingga 60 tahun, berdasarkan contoh kasus di luar negeri tidak ada hubungan antara pendarahan otak dan vaksin virus corona," kata Kementerian Kesehatan mengutip perkataan dokter penasihat pemerintah Jepang Tomohiro Mario, dikutip dari Strait Times.

"Itu mungkin kasus kebetulan, tapi ada kebutuhan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi dan membuat penilaian oleh tim kerja untuk ke depannya," lanjutnya.

Wanita tersebut menerima vaksin pada Jumat (26/2/2021). Ia diduga menderita pendarahan otak tiga hari kemudian. Kasus ini merupakan kematian pertama di Jepang setelah vaksinasi.

Pejabat Pfizer di Jepang tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Pfizer mengatakan pada November kemanjuran vaksinnya konsisten di seluruh usia dan kelompok etnis, dan bahwa tidak ada efek samping yang besar, sebuah tanda bahwa imunisasi dapat diterapkan secara luas di seluruh dunia.

Otoritas kesehatan global memuji kecepatan perkembangan keselamatan dan efektivitas vaksin COVID-19. Hanya saja mereka tetap memperingatkan orang-orang dengan kondisi kesehatan yang serius, agar berkonsultasi dengan tenaga medis terlebih dahulu sebelum divaksin.



Simak Video "Vaksinasi COVID-19 Saat Berpuasa, Perlukah Persiapan Khusus?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)