Selasa, 16 Mar 2021 13:00 WIB

BNPB Beberkan Kronologi Pengadaan Reagen yang Diduga Ada Kerugian Negara

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Swab test PCR (Polymerase Chain Reaction) masih menjadi pilihan masyarakat untuk mengetahui status COVID-19. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Diterpa dugaan kerugian negara miliaran rupiah terkait pengadaan reagen PCR, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membeberkan kronologi awal mula pembelian reagen.

Menurut Dra Prasinta Dewi, MAP Deputi Bidang Logistik dan Peralatan, BNPB mulanya membeli reagen PCR berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) lantaran belum ada acuan dari Kementerian Kesehatan RI.

"Kita juga waktu itu belum ada patokan atau acuan kami atau standar dari Kemenkes barang seperti apa yang harus kami adakan. Karena ini keputusan harus diambil cepat, kita memiliki daftar WHO dan CDC," jelas Prasinta dalam konferensi pers BNPB Selasa (16/4/2021).

"Kemudian dari situ kita mengambil beberapa daftar itu mencari penyedia yang memiliki sumber daya tersebut," lanjutnya.

Prasinta menyebut, pengadaan reagen PCR juga melibatkan pihak Balitbangkes dan tim pakar untuk mengetahui alat kesehatan seperti apa yang dibutuhkan. Pengadaan dipercepat karena kondisi pandemi yang membuat tes COVID-19 perlu ditingkatkan saat semakin banyak jumlah sampel pasien yang harus diperiksa.

Hal senada disampaikan Dr dr Andani Eka Putra, MSc, Tenaga Ahli Menteri Kesehatan Bidang Penanganan COVID-19. Menurutnya, pengadaan reagen PCR oleh BNPB malah sangat membantu sebelum sempat kewalahan saat wabah COVID-19 baru merebak di Indonesia.

Andani menyebut reagen saat itu seperti barang langka. Ia mengaku, sampai harus meminjam kit reagen ke negara lain untuk menyocokkan lebih dulu seperti apa reagen dengan hasil yang valid.

"Sulitnya minta ampun. Saya masih ingat di awal-awal untuk dapat kit primer saja saya harus minjam punya orang. Jadi sistemnya belum multiple seperti sekarang, masih individual."

"Reagen itu barangnya sulit, barang Eropa semua. Jadi mereka kirim ke Indonesia itu mungkin hanya 50 box, 50 box untuk semua lab, sehingga apa yang terjadi? Kita cuma dapat satu box untuk 50 sampel," lanjut Andani.

Imbasnya, pemeriksaan sampel lantas hanya bisa dilakukan sangat terbatas. Jika kit reagen sudah habis, laboran tidak bisa meneruskan uji sampel yang terus berdatangan.

"Jadi misal hari ini berjalan kitnya habis, reagen habis, besoknya libur. Sementara sampel masuk terus, dan itu menyedihkan," kata Andani.

"Dan itu kita jalani sampai satu bulan lah kira-kira seperti itu. Maka testing kita itu awalnya paling sukses 60 sampel 90 sampel, kemudian libur sehari, dua hari," jelasnya.

Setelah kesulitan selama kurang lebib sebulan, pengadaan reagen dari BNPB diklaim Andani membantu mengatasi kondisi yang serba rumit di awal wabah COVID-19.

"Ketika di BNPB saya melihat pengadaan reagen sudah mulai rapih, dan alhamdulillah reagen-reagen yang ada setelah kita validasi itu umumnya bagus," jelasnya dalam kesempatan yang sama.

Simak kronologi pengadaan reagen PCR di BNPB di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Antisipasi Kenaikan Kasus Corona Jelang Ramadan 2021"
[Gambas:Video 20detik]