Selasa, 16 Mar 2021 16:03 WIB

Kualitas Udara Dunia Membaik, DKI Jakarta Masih 10 Besar Kota Terpolusi

Firdaus Anwar - detikHealth
Sejumlah warga beraktivitas di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (19/12). Tahun lalu DKI Jakarta sempat jadi kota dengan polusi udara terburuk di dunia menurut data IQAIR. Jelang akhir 2020, kualitas udara di ibukota sudah jauh membaik. Kualitas udara dilaporkan meningkat selama pandemi COVID-19. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Selama pandemi COVID-19 dunia menerapkan berbagai upaya pembatasan aktivitas manusia demi menekan penyebaran virus. Kabar baiknya, kualitas udara di 84 persen negara dilaporkan oleh IQAIR membaik bila dibandingkan pada periode tahun 2019.

Dalam laporan yang berjudul "2020 World Air Quality Report" disebutkan bahwa perbaikan kualitas udara ini berkaitan dengan emisi industri dan transportasi yang berkurang selama periode lockdown.

"Hubungan antara COVID-19 dengan polusi udara telah menunjukkan hal penting, terutama di banyak lokasi yang udaranya jadi lebih bersih. Bahwa sebetulnya memperbaiki kualitas udara bisa dilakukan dengan usaha kolektif bersama," kata laporan seperti dikutip dari CNN, Selasa (16/3/2021).

Peneliti dari IQAIR memperoleh data dengan memeriksa tingkat polusi udara di 106 negara. Hal ini dilakukan dengan cara mengukur kandungan partikulat berukuran di bawah 2,5 mikron (PM 2,5) di udara yang berisiko menimbulkan masalah kesehatan.

Singapura, Beijing, dan Bangkok disebut jadi daerah yang dilaporkan mengalami penurunan rata-rata tingkat PM 2,5 terbesar.

Sementara itu DKI Jakarta disebut berada di posisi ke-9 sebagai kota dengan rata-rata tingkat PM 2,5 tertinggi di dunia, yaitu mencapai 39,6 mikrogram per meter kubik.

"Untuk memperlambat penyebaran COVID-19, Jakarta mengimplementasikan pembatasan sosial berskala besar pada 10 April yang menutup perkantoran, sekolah, dan tempat ibadah. Pembatasan ini bertahan sampai 5 Juni dan berkaitan dengan penurunan PM 2,5 sampai 12,8 persen di bulan April serta 31,7 persen di bulan Mei tahun lalu," tulis laporan.



Simak Video "Epidemiolog Soroti Pemerintah soal Penerapan UU Karantina Kesehatan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)