Rabu, 24 Mar 2021 22:16 WIB

Pakar Global Bicara 'Kelaparan Tersembunyi' di Lokakarya KFI & IGI

Nurcholis Maarif - detikHealth
Anak-anak yang keparan Foto: Thinkstock
Jakarta -

Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI) dan Institut Gizi Indonesia (IGI) menyelenggarakan lokakarya internasional tentang masalah gizi mikro global dan nasional yang dikenal sebagai hidden hunger atau 'kelaparan tersembunyi'. Acara digelar dua hari secara virtual.

Berdasarkan keterangan yang diterima detikcom, Rabu (24/3/2021), masalah gizi spesifik yang dibahas dalam lokakarya tersebut adalah defisiensi zat gizi mikro, khususnya zat besi, iodium, seng/zinc, vitamin A dan asam Folat.

Sebanyak 20 pembicara internasional dan nasional yang kepakarannya dalam bidang gizi, pangan dan kesehatan masyarakat mengisi lokakarya bertema 'Gizi mikro sebagai Strategi Tandem dalam Pemberian Vaksinasi COVID-19 dan Peningkatan Penurunan Stunting: Peranan Suplementasi Gizi Mikro Multiple dan Fortifikasi Pangan' tersebut.

"Tujuan lokakarya ini adalah mendukung pembuat kebijakan di pemerintah dan industri tentang pentingnya mewajibkan fortifikasi makanan bagi kesehatan dan kesejahteraan orang miskin, khususnya kehidupan di 1.000 hari pertama kehidupan untuk generasi masa depan dan untuk menciptakan generasi Indonesia yang lebih baik," tulisnya.

Adapun keynote speech dari lokakarya ini disampaikan dan sekaligus dibuka oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang diwakili oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, drg. Kartini Rustandi. Lokakarya ini dimoderatori Dr. Ir. Drajat Martianto selaku Vice Chair KFI and Vice Chair of IGI Board.

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, menyampaikan pidato bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi, termasuk ilmu pengetahuan gizi, harus merupakan fondasi formulasi kebijakan yang berdasarkan bukti, bagi pengembangan kualitas manusia sebagai landasan peradaban manusia.

Hari Pertama

Hari pertama lokakarya yang digelar pada tanggal 20 Maret 2021 berfokus pada pendekatan berbasis non-pangan dan mendiskusikan pedoman WHO Steering Group tahun 2019 tentang pemberian Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) yang penting untuk periode 1.000 hari pertama kehidupan yang telah/akan dilaksanakan di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.

Pembicara utama pada hari pertama ini ialah Prof. Dr. Sangkot Marzuki yang merupakan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia periode sebelumnya dan yang saat ini menjabat sebagai Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia serta Ketua Dewan Pakar IGI. Ia menjelaskan tentang sejarah vitamin di Indonesia yang luar biasa.

Setelah itu, diikuti presentasi oleh dua profesor dari the Johns Hopkins University, yakni Prof Keith P. West Dr.PH, dan Dr. Klaus Kraemer. Lalu ada juga dari Oxford University, Dr. Anuraj Shangkar serta Dr. Clayton Ajello dari humanitarian/micronutrient forum dan juga anggota the MMS Task Force.

Mereka menjelaskan tentang aspek teknis MMS, termasuk perkembangan kebijakan global yang terkini tentang Perubahan IFA menjadi MMS. Juga disampaikan konsensus tentang pemahaman spesifikasisi UNIMMAP dan produksinya.

Hari Kedua

Hari kedua lebih banyak fokus pada isu masyarakat dalam skala yang lebih besar yaitu 'kelaparan tersembunyi' di antara masyarakat miskin di negara berkembang maupun di negara maju dengan pendekatan berbasis pangan, yaitu fortifikasi pangan dan biofortifikasi.

Lokakarya ini mendiskusikan utamanya tentang fortifikasi pangan yang wajib dan biofortikasi sebagai komponen dari program gizi nasional untuk memperbaiki status gizi kelompok miskin seperti yang terutama diindikasikan oleh penurunan stunting.

Para pembicara pada hari kedua di antaranya adalah tiga penerima penghargaan pangan dunia (World Food Prize Laureate). Pertama, Dr. David Nabarro, utusan khusus WHO Director General on COVID-19 dan Advisory Committee Member of the UN Food System Summit yang juga adalah Pemegang World Food Prize Laurate 2018 yang berbicara tentang SDGs, sistem pangan, juga pentingnya asupan gizi yang baik pada periode 1.000 hari pertama kehidupan terutama selama masa pandemi COVID-19.

Kedua, Howarth Bouis, PhD, Pemegang World Food Prize Laureates 2016 dan pendiri serta mantan Direktur HarvestPlus Washington yang memimpin tim penelitian penemuan teknologi biofortikasi.

Ketiga, Lawrence Haddad, PhD, Direktur Eksekutif GAIN, Co-chair Global Nutrition Report dan Pemegang World Food Prize Laureates 2018 atas kepemimpinannya dan yang tak kenal lelah, dan advokasi dalam memobilisasi kemauan politik untuk membuat gizi merupakan poin penting strategi pembangunan.

Lalu ada Erick Boy, PhD, Direktur Gizi dari Harvestplus, Washington, yang memberikan penjelasan tentang dasar riset gizi, bukti bagi biofortifikasi makanan pokok. Selain itu, lokakarya ini juga menghadirkan Dr. Venkatesh Mannar yang merupakan pencetus beberapa inisiatif gizi internasional yang efektif, teknologi dan pengembangan yang difokuskan pada warga negara dunia yang paling rentan, dan juga mantan Presiden Micronutrient Initiative Canada.

(ncm/ega)