Minggu, 28 Mar 2021 13:02 WIB

Bom Gereja Katedral Makassar High Explosive, Ini Cedera yang Bisa Terjadi

Firdaus Anwar - detikHealth
Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulsel. Sejumlah petugas kepolisian pun bersiaga di area sekitar lokasi ledakan. Ambulans di lokasi kejadian bom Gereja Katedral Makassar. (Foto: ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Jakarta -

Bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar disebut polisi masuk kategori high explosive. Sejauh ini dilaporkan ada sembilan orang yang dibawa ke rumah sakit dan satu orang terduga pelaku meninggal dunia.

Kalau jenis ledakan sementara bisa dikatakan high explosive karena daya ledaknya cukup tinggi," ucap Kapolda Sulsel Irjen Merdisyam di lokasi kejadian, Minggu (28/3/2021).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mendeskripsikan cedera akibat high explosive dapat memiliki karakteristik tersendiri. Selain luka lecet karena serpihan benda, cedera utama biasanya terjadi akibat gelombang kejut.

Blast lung disebut-sebut sebagai kondisi yang harus diperhatikan bagi para korban selamat. Alasannya gelombang kejut dari ledakan dapat memberi tekanan pada organ bagian dalam, menimbulkan kerusakan pada paru-paru.

"Blast lung adalah cedera yang jadi penyebab kematian paling umum di antara mereka yang berhasil selamat dari ledakan awal," tulis CDC.

"Tanda-tanda blast lung bisa ada dari awal sejak terjadi ledakan, tapi bisa juga baru muncul sampai 48 jam setelah ledakan. Tanda-tanda blast lung dikarakterisasi dengan tiga rangkaian gejala yaitu apnea (berhentinya otot pernapasan), bradikardia (detak jantung lambat), dan hipotensi (tekanan darah rendah)," papar CDC.

Organ tubuh lainnya, seperti gendang telinga, otak, mata, dan saluran pencernaan juga bisa terdampak oleh gelombang kejut ledakan.



Simak Video "Cedera Saat Olahraga? Begini Cara Tepat Menanganinya"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)
eLife
×
Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19
Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19 Selengkapnya