Selasa, 30 Mar 2021 19:00 WIB

Vaksinasi di Indonesia Tembus 10 Juta Dosis, Ini Kata Menkes & Ahli

Erika Dyah Fitriani - detikHealth
Menkes Budi Gunadi merima Vaksinasi COVID-19 Tahap Kedua di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 27 Januari 2021. (Muchlis - Biro Setpres) Foto: Muchlis - Biro Setpres
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap Indonesia telah melakukan penyuntikan vaksinasi kepada lebih dari 10 juta sasaran pada Jumat (26/3). Ia menyebutkan data tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi 4 besar negara bukan produsen yang berhasil melakukan penyuntikan di atas 10 juta.

Ia pun mengatakan laju penyuntikan vaksin di Indonesia saat ini telah mencapai 500.000 suntikan per hari.

"Kita sudah tembus 10 juta penyuntikan Jumat lalu. Dengan capaian ini, Indonesia masuk dalam posisi 4 besar negara di dunia yang bukan produsen vaksin, tapi tertinggi dalam melakukan penyuntikan. Kita di bawah Jerman, Turki, dan Brasil dan berhasil melampaui Israel dan Perancis. Ini sebuah kabar gembira," ujar Budi dalam keterangan tertulis, Selasa (30/3/2021).

Budi juga mengatakan vaksin COVID-19 telah menjadi isu geopolitik yang membuat negara-negara di seluruh dunia saling berebut untuk mendapatkan vaksin. Oleh sebab itu, lanjutnya, vaksin yang tersedia menurutnya adalah vaksin yang terbaik untuk digunakan.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia, Budi meminta agar pemerintah dapat mengombinasikan penggunaan berbagai macam merek vaksin COVID-19. Ia menilai, tak ada satu pun produsen vaksin di dunia ini yang dapat memenuhi seluruh permintaan negara-negara besar seperti Indonesia.

Meski demikian, Budi mengatakan Indonesia beruntung karena sudah menjalin kerja sama dengan 4 produsen vaksin, yaitu Sinovac, Astrazeneca, Novavax, dan Pfizer.

"Kamis kemarin (25/3), kita menerima tambahan 16 juta dosis vaksin asal Sinovac. Secara keseluruhan, kita telah menerima 57,6 juta dosis vaksin, termasuk yang dari AstraZeneca melalui mekanisme COVAX. Ketersediaan vaksin menjadi sangat penting dalam menjaga kelancaran program vaksinasi pemerintah," kata Budi.

Budi pun mengungkap saat ini sejumlah negara di Eropa dan Asia kembali mengalami lonjakan kasus COVID-19. Ia menambahkan, penambahan kasus ini disebabkan adanya jenis virus mutasi baru, yang juga sudah masuk ke Indonesia sejak awal tahun ini, serta mobilitas yang tinggi.

"Terkait lonjakan kasus COVID-19 di beberapa negara, saya ingin sampaikan bahwa meski kita sudah mengalami percepatan dalam vaksinasi, kita perlu berhati-hati mengatur laju penyuntikan karena adanya potensi embargo dari negara produsen vaksin yang mengalami lonjakan kasus di negaranya. Kita perlu mengatur ritme vaksinasi agar tidak ada kekosongan vaksin nantinya," imbuhnya.

Ia menambahkan lonjakan kasus di negara lain kiranya dapat menjadi pengingat untuk terus waspada. Caranya yaitu dengan menahan mobilitas dan mematuhi disiplin protokol kesehatan, terlebih menurut Budi jenis mutasi virus baru COVID-19 sangat cepat menyebar.

"Hindari bepergian, paling tidak sampai pandemi benar-benar terkontrol. Kalau nanti terjadi lonjakan kasus, kasihan tenaga kesehatan kita akan kelelahan," tutur Budi.

Selain itu, Budi mendorong masyarakat untuk ikut mensosialisasikan pentingnya vaksinasi COVID-19, khususnya kepada kelompok masyarakat lanjut usia 60 tahun ke atas.

Ia memaparkan tingkat partisipasi lansia dalam vaksinasi masih rendah, padahal lansia paling rentan dibanding kelompok prioritas lain karena mudah sakit serta tingkat kematiannya tinggi.

"Mari kita upayakan bersama bagaimana bisa mendorong lansia bisa lebih cepat disuntik agar kita dapat melindungi orang tua kita. Semakin cepat vaksinasi dilakukan, semakin cepat kita mencapai kekebalan komunal," pungkasnya.

Oleh karena itu, Budi juga mengimbau masyarakat agar tak ragu untuk mendapat vaksinasi ketika gilirannya tiba nanti. Ia mengatakan pemerintah akan akan memprioritaskan vaksin yang aman dan berkhasiat untuk dipergunakan seluruh masyarakat. Lebih lanjut, Budi menyebutkan keamanan ini juga telah didasarkan pada rekomendasi dari ahli.

"Vaksin memiliki manfaat yang jauh lebih besar dari risiko yang ditimbulkan. Ketika saatnya tiba untuk vaksinasi, tidak usah ragu-ragu. Apapun jenis vaksinnya, pasti aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita. Bagi yang sudah divaksinasi, jangan lupa untuk tetap menjalankan protokol kesehatan 3M dengan disiplin sampai kita benar-benar mencapai kekebalan kelompok dan terbebas dari pandemi," serunya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Ede Surya Darmawan menilai program vaksinasi COVID-19 dari pemerintah telah berjalan dengan baik.

"Angka 10 juta penyuntikan ini sudah bagus, tapi tetap butuh terus kita tingkatkan mengingat masih banyak masyarakat yang harus divaksinasi dari target kita 180 juta untuk mengejar herd immunity," ungkap Dr. Ede.

Ia mengatakan ada prinsipnya vaksinasi COVID-19 ini mempertemukan dua hal, yakni orang dan vaksin. Dr. Ede menilai minat dari masyarakat sudah sangat tinggi dilihat dari banyaknya orang yang sudah mengantre.

"Salah satu yang butuh direspons saat ini adalah terkait dengan jadwal pelaksanaan vaksinasi untuk masyarakat luas, dan bagaimana ketersediaan vaksinnya serta kesiapan vaksinatornya. Sekarang kita sudah mampu untuk melaksanakan rata-rata 500 ribu penyuntikan perhari," ucapnya.

Kendati demikian, Dr. Ede menilai capaian ini masih perlu ditingkatkan. Ia mengatakan perlu adanya speed up, hingga setidaknya bisa melakukan 2 juta penyuntikan per hari untuk mengejar target vaksinasi selesai di akhir tahun ini.

Tak hanya itu Dr. Ede juga meminta masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan bersama.

"Perlu diingat juga bagi masyarakat bahwa dengan divaksinasi, maka tidak lantas diri kita langsung terlindungi utuh. Tetap harus disiplin melakukan protokol kesehatan dan 3M (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan)," jelas Dr.Ede.

Selain itu, Ahli Patologi Klinis sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK, PhD, FISQua, turut mengapresiasi capaian 10 juta penyuntikan vaksinasi ini.

"Kita harus mensyukuri pencapaian yang telah kita raih dengan segala keterbatasan yang kita miliki saat ini," ujar dr. Tonang.

Ia menilai, harapan masyarakat terhadap vaksinasi sangat tinggi. Sehingga menjadikan minat masyarakat untuk divaksinasi juga sangat tinggi.

"Namun yang menjadi tantangan adalah stok dari vaksin yang tersedia, jumlahnya masih sangat terbatas. Kita perlu mendukung upaya pemerintah yang terus berusaha untuk menyediakan vaksin dan mengendalikan kecepatan pelaksanaan vaksinasi harian, dan menjaga ketersediaan vaksinasi yang ada saat ini," jelas dr. Tonang.



Simak Video "Negara Vaksinasi dengan Jumlah Terbanyak, Indonesia Urutan ke-8"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)