Kamis, 01 Apr 2021 16:14 WIB

Saran Psikolog Agar Remaja Tak Gampang Terhasut Paham Terorisme

Vidya Pinandhita - detikHealth
Zakiah Aini beraksi sendiri saat menyerang Mabes Polri. Sebelum penyerangan ke Mabes Polri, ada sederet aksi teror lone wolf yang terjadi di Indonesia. Berikut beberapa di antaranya: Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: dok detik)
Jakarta -

Aksi terorisme kerap dikaitkan dengan proses perkembangan psikis yang terganggu. Akibat kurang terpenuhinya kebutuhan psikis seiring masa perkembangan, muncul potensi seorang remaja rentan terpengaruh oleh ajaran tertentu, tak terkecuali yang membenarkan terorisme.

Psikolog pro Help Center dan konselor IAC (Indonesia Association Counseling) Nuzulia Rahma Tristinarum menjelaskan, pembinaan terhadap pelaku lebih sering dilakukan saat usia mereka remaja.

Zakiah Aini (AZ), pelaku penembakan di Mabes Polri, Jakarta pada Rabu (31/3/2021) diketahui lahir pada 1995, berusia sekitar 26 tahun. Rahma menyebut, usia tersebut tergolong dewasa muda.

Usia remaja dan dewasa muda adalah masa peralihan sehingga lebih rentan terhadap pengaruh dari luar diri. Umumnya pada masa remaja, pelaku lebih mudah diyakinkan untuk melakukan aksi terorisme.

Menurutnya, seorang anak bisa dilindungi dari ancaman pengaruh terorisme sejak masa anak-anak. Kedekatan psikologis dengan keluarga bisa membantu terpenuhinya kebutuhan proses perkembangan psikis seseorang.

"Asuh dengan cinta dan logika. Penuhi jiwa anak anak kita dengan kasih sayang, perhatian, kedekatan secara psikologis. Jangan lupa juga mengasuh mereka untuk dapat berpikir kritis dan mandiri secara emosional. Sering mengajak diskusi dua arah anak-anak dan remaja kita," terangnya pada detikcom, Kamis (1/4/2021).

Ia menambahkan, pola pikir terbuka sebenarnya bisa dibentuk. Selain komunikasi terbuka antara anak dengan orangtua, pergaulan pula berpengaruh.

Upayakan agar pergaulan tak terbatas di 1 lingkungan agar terbiasa bersikap kritis terhadap ajakan dan tidak menelan mentah-mentah omongan orang lain.

"Bagi yang sudah berada di tahap usia dewasa, sebaiknya lebih melatih diri untuk berpikir kritis dan bergaul dengan banyak orang di lingkungan yang berbeda-beda. Tidak hanya satu lingkungan saja sehingga cara berpikir kita pun tidak kaku," imbuh Rahma.



Simak Video "Menelisik Ramainya Isu Bullying yang Dilakukan Selebriti Korsel"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)