Rabu, 07 Apr 2021 11:33 WIB

Tahap 2 Vaksinasi Masih 22 Persen, Vaksinator Tak Bisa Sembarang Suntik

Vidya Pinandhita - detikHealth
Para Lansia menerima suntikan vaksin COVID-19 di Gedung Balai Besar Pelatihan Kesehatan, Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (24/3). Begini ekspresi para Lansia saat disuntik. Tahap 2 vaksinasi COVID-19 masih 22 persen, vaksinator disebut tak boleh sembarang suntik. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Dalam rangka penanganan pandemi, pemerintah menggencarkan vaksinasi COVID-19, berlangsung sejak 13 Januari 2021. Akan tetapi hingga kini, vaksinasi masih berada pada tahap 2, diperuntukkan tenaga kesehatan (nakes), petugas publik, dan lansia.

Laporan terakhir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Selasa (6/4/2021) hingga pukul 12.00 WIB, vaksin COVID-19 telah disuntikkan ke 8.912.055 orang, mencakup 22,09 persen dari total sasaran di tahap 2.

Kepala Pusat Pelatihan Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta dr Nisma Hiddin, SH, MH menjelaskan, kendala vaksinasi COVID-19 di Indonesia bukan hanya terbatasnya ketersediaan vaksin, melainkan pula jumlah vaksinator.

Pasalnya, penyuntikan vaksin COVID-19 ini berbeda dengan imunisasi pada umumnya. Tak hanya karena vaksin COVID-19 ini amat baru, pula karena vaksinasi diberikan pada orang banyak melalui tahap-tahap skrining khusus. Walhasil, nakes yang akan menjadi vaksinator perlu dibekali pelatihan lebih dulu.

"Kenapa perlu dilatih? Vaksin COVID-19 bukan vaksin biasa. Yang kita hadapi ini orang banyak sehingga perlu stimulus yang baik. Ada meja 1, 2, 3, 4 (di tahap vaksinasi), itu nakes betul-betul kita latih," ujarnya dalam webinar, Rabu (7/4/2021).

Turut hadir dalam webinar, Sektretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah DKI Jakarta dr Ferry Rahman, MKM menjelaskan, penyuntikan memang merupakan ilmu teknik dasar yang pasti dikuasai dokter apa pun spesialisasinya. Jika dilihat secara umum, anggota IDI di Indonesia sebenarnya mencapai hampir 180 ribu.

Akan tetapi, tak semua dokter bisa langsung menyuntikkan vaksin COVID-19. Sejalan dengan paparan dr Nisma, tahap-tahap penting yang ada dalam proses vaksinasi COVID-19 membuat setiap dokter memerlukan pelatihan lebih dulu.

Mengingat bahan vaksin COVID-19 ini baru, dokter-dokter memerlukan pelatihan agar risiko efek samping pun bisa terantisipasi.

"Ada meja 1, 2, 3, dan 3, artinya dokter-dokter kita saat ini perlu diberikan penguatan. Pelatihan dan pemahaman pasca vaksinasi itu sendiri. Vaksin ini hal yang baru, tidak biasa seperti vaksin-vaksin lainnya," ujar dr Ferry.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)