Minggu, 11 Apr 2021 14:17 WIB

Pertama di Dunia! Wanita Ini Berhasil Jalani Transplantasi Trakea

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
ilustrasi tenggorokan Seorang wanita dari Amerika Serikat menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menjalani transplantasi trakea. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Seorang wanita asal New York, Amerika Serikat, menjadi orang pertama di dunia yang menjalani transplantasi trakea. Wanita ini bernama Sonia Sein (57).

Dikutip dari Health, kondisi ini berawal dari serangan asma yang menimpa Sein pada enam tahun lalu. Pita suara dan trakea Sein pun mengalami kerusakan akibat penyakit asmanya yang parah.

Kala itu, Sein harus dipasangi ventilator untuk membantunya bernapas. Namun, karena selang ventilatornya terlalu lama dipasang, trakeanya menjadi rusak.

"Ketika mereka memasukkan selang itu, dia memasukkan selang itu cukup lama dan itu merusak saluran napas trakea," kata Dr Eric Genden, MD, ahli bedah kepala dan leher di Rumah Sakit Mount Sinai, dikutip dari CBSN New York.

Akhirnya, Sein memutuskan untuk melakukan transplantasi trakea. Prosedur ini belum pernah dilakukan sebelumnya.

Sein dikabari oleh pihak rumah sakit bahwa mereka telah menemukan donor untuknya pada Januari lalu. Ditangani oleh sebanyak 50 dokter spesialis, Sein melakukan transplantasi trakea selama 18 jam pada 13 Januari.

Selama operasi, tim bedah mengangkat trakea dan pembuluh darah donor, lalu merekonstruksinya ke dalam tubuh Sein, dari paru-paru ke laringnya. Mereka juga menggunakan sebagian esofagus dan tiroid Sein untuk membantu menyediakan suplai darah ke trakea baru.

Setelah operasinya selesai, Sein pun bisa bernapas lega. Ia sangat bersyukur karena bisa kembali bernapas dengan normal setelah enam tahun menggunakan alat bantu napas.

"Bagi saya, rasanya setelah menjalani operasi, saya bisa bernapas. Ketika saya mengambil napas pertama, itu adalah surga," ujar Sein.

Dokter yang menangani Sien, Genden, mengatakan bahwa penelitian tentang prosedur transplantasi trakea ini telah dipelajarinya selama 30 tahun dan sangat berguna untuk saat ini. Terlebih banyak orang yang harus diintubasi karena komplikasi COVID-19.

"Ini sangat tepat waktu mengingat meningkatnya jumlah pasien dengan masalah trakea akibat diintubasi karena COVID-19," ucap Genden.

"Karena ventilasi mekanis dan penyakit saluran napas yang diinduksi COVID-19, jumlah orang yang terkena masalah trakea menjadi meningkat dan sekarang kami telah memiliki pengobatannya," lanjutnya.

Saat ini Sein masih memiliki lubang di lehernya, namun dokter tengah berencana untuk segera menutupnya agar ia dapat berbicara dengan leluasa.



Simak Video "Mengenal Kesalahpahaman Mitos Asma yang Beredar di Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)