Senin, 12 Apr 2021 13:35 WIB

3 Vaksin Ini Tak Manjur untuk Varian Corona 'Raja' Afsel, Pfizer Termasuk

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty) Foto: AP/Oded Balilty
Jakarta -

Meski terbukti ampuh melawan varian Corona B117 yang marak menyebar dari Inggris ke sejumlah negara, studi baru vaksin Pfizer menunjukkan efektivitas menurun terhadap Corona B1351. Varian yang disebut 'raja' oleh para ilmuwan memang kerap dikhawatirkan bisa mengelabui antibodi pasca divaksin.

Selain vaksin Corona Pfizer, berikut beberapa vaksin yang terbukti tak ampuh melawan varian raja Corona B1351, dirangkum detikcom dari berbagai sumber.

1. Vaksin AstraZeneca

Studi vaksin Corona AstraZeneca yang dimuat di New England Journal of Medicine (NEJM) menunjukkan efikasi vaksin mereka terhadap varian Corona raja B1351 hanya mencapai 10,4 persen.

Analisis didapatkan dari 2.026 relawan usia 18-59 tahun, dibagi menjadi dua kelompok, penerima plasebo dan penerima vaksin. Ada 23 dari 717 orang di kelompok plasebo terkena COVID-19.

Sementara penerima vaksin Corona, ada 19 yang tekena COVID-19 dari dari 750 relawan. Meski efikasi umum yang didapat 21,9 persen, total 42 kasus yang terinfeksi COVID-19, 92,9 persen di antaranya Corona B1351.

Maka dari itu, efikasi vaksin Corona yang didapatkan 10,4 persen.

2. Vaksin Sputnik V

Vaksin Corona besutan Rusia tampaknya kurang efektif melawan Corona B1351. Ilmuwan AS menggunakan sampel darah pasien Argentina untuk melihat bagaimana antibodi mereka terhadap varina Afrika Selatan usai vaksinasi Sputnik V.

Ditemukan, antibodi menurun hingga berkali lipat dalam melawan varian Corona B1351 hingga mutasi E484K yang baru-baru ini menyebar ke Brasil, AS, hingga Jepang.

"Antibodi dari penerima vaksin Sputnik di Argentina memiliki rata-rata penurunan 6,1 kali lipat dan 2,8 kali lipat dalam melawan B1351 dan mutasi Corona E484K," kata peneliti dalam sebuah studi yang meneliti 12 kasus.

3. Vaksin Pfizer

Studi Universitas Tel Aviv dan Clalit menunjukkan vaksin Pfizer kurang efektif melawan varian Corona Afrika Selatan B1351. Penelitian dilakukan pada 400 orang yang positif Corona dan sudah divaksinasi, dan 400 relawan lain sudah divaksinasi tetapi tak positif Corona.

Studi tersebut menemukan kasus positif Corona didominasi Corona B1351 meski sudah divaksinasi. "Ini menunjukkan vaksin itu kurang efektif terhadap varian Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus Corona asli dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang mencakup hampir semua kasus COVID-19 di Israel," kata para peneliti.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)