Rabu, 14 Apr 2021 13:33 WIB

Siklus Menstruasi Berubah Usai Vaksin COVID-19, Efek Samping?

Ayunda Septiani - detikHealth
Torso of an unrecognizable woman is showing red square card to camera representing with menstruation written in white. Foto: Getty Images/iStockphoto/simarik
Jakarta -

Beberapa perempuan menyebut menstruasi mereka terasa lebih berat setelah menerima suntik vaksin COVID-19. Disebutkan menstruasi terjadi lebih cepat dan kembali selama menopause.

Potensi terkait efek samping vaksin COVID-19 ini nampaknya tidak terlihat selama uji klinis pada ribuan orang. Tapi begitu vaksin sudah diberikan kepada jutaan orang di seluruh dunia, lebih banyak efek samping yang timbul.

Pada Februari 2021 lalu, Dr Kate Vlancy, seorang profesor departemen antropologi di Universitas Illinois, mengatakan bahwa ada seorang perempuan mengalami menstruasi berat setelah vaksin COVID-19.

Sehingga, Dr Kate pun mencari tahu hubungan tersebut selama seminggu menggunakan satu dosis vaksin Moderna. Dr Kate menyebutkan menstruasinya terjadi lebih awal dari prediksinya.

"Saya mendapatkan vaksin COVID-19 pertama dari Pfizer pada tanggal 29 April 2020 lalu dan sekarang saya kembali mengalami menstruasi lagi setelah 28 bulan menopause," jelas seorang wanita dikutip dari laman The Sun.

Wanita lainnya juga mengalami menstruasi selama 3 minggu, yang dinilai tidak normal. Sementara, satu wanita lainnya kembali mengalami menstruasi setelah cukup lama berhenti dan lebih ringan.

Dr Heather Bartos, seorang ginekolog Texas, mengatakan wanita yang menggunakan IUD lebih mungkin mengalami pendarahan tidak biasa ketika masuk angin atau infeksi.

Efek samping vaksin COVID-19, seperti demam juga bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Tapi, efek ini tentu berbeda tergantung pada kandungan dalam vaksin COVID-19 itu sendiri.

Adapun efek samping normal dari vaksin COVID-19, termasuk kelelahan, nyeri di tempat suntikan dan nyeri otot. Wanita yang berusia di bawah 40 tahun nampaknya lebih mungkin mengalami efek samping.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengatakan setidaknya ada 32 wanita yang mengalami perubahan dalam periode menstruasi ini.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan di Israel juga mengatakan telah mendapatkan beberapa laporan kasus wanita mengalami pendarahan abnormal dari vagina atau pendarahan tidak teratur.

Tetapi, sampai sekarang belum ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan siklus menstruasi perempuan berubah karena vaksin COVID-19. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai penyebab.

Dr Bartos menyebutkan bahwa perubahan siklus menstruasi ini mungkin juga disebabkan oleh stres. Sebab, pandemi virus COVID-19 yang belum usai telah memicu stres dari berbagai hal, mulai keuangan, kerjaan, pengasuhan anak dan lainnya.

"Saya sudah menegaskan perubahan periode menstruasi sekali atau dua kali belum terlalu mengkhawatirkan. Jika perubahan itu terjadi 3 hingga 5 kali atau lebih perlu diperiksakan," jelasnya.



Simak Video "Laporan BPOM soal Efek Samping Penyuntikan Vaksin Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)