Kamis, 15 Apr 2021 11:08 WIB

Adian Napitupulu Mendukung, Vaksin Nusantara dr Terawan Cocok untuk Komorbid?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Anggota DPR RI Adian Napitupulu mendatangi RSPAD Gatot Soebroto Rabu (14/4/2021) Adian Napitupulu mendatangi RSPAD Gatot Soebroto (Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth)
Jakarta -

Vaksin Nusantara besutan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto ramai diterpa kritik. Mulai dari basis vaksinnya yang disebut terlalu rumit untuk vaksinasi massal, biaya yang mahal, rangkaian prosedur tak sesuai standar, hingga imunogenitasnya dinilai tak sesuai dengan jenis virus Corona yang ada di Indonesia.

Anggota Komisi Nasional (Komnas) Penilai Khusus Vaksin COVID-19 dr Jarir At Thobari, PhD khawatir, vaksin Nusantara tak efektif mengatasi COVID-19 di Indonesia. Pasalnya, vaksin ini tak berbasis tipe virus Corona yang ada di Indonesia, melainkan mengunggulan basis dendritik yang dipasok oleh AS.

"Ada beberapa vaksin di luar negeri efektivitasnya tidak begitu baik terhadap mutasi-mutasi virus yang ada. Dengan pengembangan vaksin di Indonesia, suplai vaksin akan dijamin. Kita tahu, embargo vaksin itu mulai terjadi. Dengan diproduksinya vaksin di Indonesia, suplai akan menjadi kebutuhan buat sendiri," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Dalam kesempatan lainnya, peneliti utama vaksin Nusantara, Jonny, memaparkan sisi lain yang menjadi kelebihan vaksin Nusantara. Kelebihan ini tidak dimiliki vaksin lain, karena vaksin nusantara memang menggunakan pendekatan 'personalized'.

Menurutnya, lantaran menggunakan darah dari penerima vaksin yang kemudian 'dikenalkan' dengan protein S (Spike), vaksin ini berpotensi aman digunakan oleh para pengidap penyakit komorbid. Artinya, bagi orang-orang dengan kondisi tertentu yang tidak bisa mendapat vaksin Corona biasa, vaksin nusantara bisa jadi alternatif.

"Sel darah nanti akan punya memori terhadap virus COVID-19 sehingga pada saat tubuh kita masuk virus COVID-19, tubuh sudah siap untuk menghadapi COVID-19," ujarnya saat ditemui di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (14/4/2021).

Dengan alasan itu pula, anggota DPR RI Adian Napitupulu merasa tertarik menggunakan vaksin nusantara. Dengan kondisinya yang punya penyakit jantung, ia tidak berani menggunakan vaksin pada umumnya.

"Saya punya penyakit jantung, ring sudah 5. Komorbid, jadi ada penyakit sendiri. Saya cari literasi terkait Sinovac, nggak bisa. Lalu AstraZeneca, efeknya penggumpalan darah itu bahaya buat jantung. Hari ini Johnson & Johnson juga ditunda pemberlakuannya di Amerika karena pembekuan darah," keluh Adian, ditemui di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (14/4/2021).

Jonny peneliti utama Vaksin NusantaraJonny, peneliti utama Vaksin Nusantara. Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth

Tentu prosesnya tidak sesimpel vaksin biasa. Menurut Jonny, darah yang sudah diambil harus didiamkan dulu selama 5 hari. Kemudian, sel darah putih dari darah yang sudah diambil akan dikenakan ke protein S dalam proses selama 2 hari.

Meski membutuhkan waktu sampai 7 hari, menurut Jonny, prosedur vaksin Nusantara ini sebanding dengan kelebihannya. Dengan penggunaan darah dari penerima vaksin, Jonny optimis, vaksin ini bisa digunakan oleh pengidap penyakit komorbid.

"Untuk penyakit-penyakit yang mungkin selama ini tidak bisa diberikan vaksin (COVID-19) yang lain, itu kita ingin bisa berikan. Kenapa? Karena ini menggunakan sel tubuh kia sendiri," imbuh Jonny.

Menanggapi prosedur penelitian yang dinilai tak memenuhi standar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jonny menyebut, pengerjaan uji klinis tetap mengedepankan keamanan.

"Berdasarkan teoritis aman. Oleh karena itu dalam Fase 2 ini kita akan pantau walau sudah divaksinasi. Dalam Fase 1 kita sudah tahu bahwa vaksin ini aman. Tetap dalam Fase 2 ini keamanan untuk subjek tetap kita perhatikan. Akan dilakukan follow up selama 60 hari," pungkasnya.

Sejumlah anggota DPR RI telah mengikuti uji klinis Fase 2 pada Rabu (14/4/2021), dengan tahap berupa pengambilan darah. Mereka diminta kembali ke RSPAD Gatot Soebroto 7 hari ke depan, untuk disuntikkan kembali darah yang telah 'dikenalkan' dengan protein S.



Simak Video "Menyoal Klaim DPR Terkait Jokowi Minta Vaksin Nusantara Jadi Booster"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)