ADVERTISEMENT

Minggu, 18 Apr 2021 12:00 WIB

Terlena Saat Dekati Herd Immunity, India Kini Diterjang 'Tsunami' COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
A nine year old boy, left, in personal protective equipment performs rituals during the cremation of his father who died of COVID-19 in Gauhati, India, Monday, Sept. 28, 2020. India’s confirmed coronavirus tally has reached 6 million cases, keeping the country second to the United States in number of reported cases since the pandemic began. (AP Photo/Anupam Nath) Corona di India. (Foto: AP/Anupam Nath)

Meskipun sejauh ini lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, di negara berpenduduk 1,3 miliar, hal ini belum cukup untuk menghentikan gelombang kedua COVID-19. Pada hari Selasa, jenderal pengawas obat-obatan India (DCGI), Dr VG Somani, menyetujui vaksin COVID-19 Rusia, Sputnik V, untuk penggunaan darurat di India.

Distribusi vaksin Corona kemungkinan akan dimulai bulan depan. India juga membuka jalan bagi vaksin Corona Pfizer, Moderna, dan Johnson & Johnson yang disebut akan segera mendapatkan EUA di sana.

Namun, pakar meyakini vaksinasi COVID-19 tanpa protokol kesehatan yang disiplin tetap tidak akan efektif.

Sempat mengaku mencapai herd immunity

Januari lalu, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menyebut negaranya berhasil mencapai herd immunity. Akibatnya, ada beberapa perayaan dan pertemuan sosial hingga agama termasuk festival Hindu di Kumbh Mela yang melibatkan lebih dari satu juta orang berkumpul.

Sebagian besar pakar meyakini munculnya gelombang kedua COVID-19 India akibat rasa puas diri usai kasus Corona mereka sempat menurun drastis. Selain itu, tsunami kasus COVID-19 juga disebut akibat varian baru Corona di India yang memiliki tingkat penularan COVID-19 sangat tinggi.

Gautam Menon, profesor fisika dan biologi di Universitas Ashoka menjelaskan varian Coron India B.1.617 memiliki dua mutasi dengan peningkatan penularan tinggi dan bisa mengelabui kekebalan antibodi pasca vaksinasi.

Ia melihat data kasus COVID-19 di Maharashtra, wilayah India yang paling parah terkena dampak COVID-19, di mana varian ini ditemukan bertanggung jawab atas 20 persen kasus di sana. Pemerintah juga dituding lambat dalam melakukan whole genome sequencing untuk mendeteksi kemungkinan varian 'domestik' baru yang lebih ganas daripada Brasil dan Inggris.

"Namun, program sekuensing yang lebih kuat seharusnya bertindak sebagai sistem peringatan dini, mengambil varian baru yang menjadi perhatian pada tahap sebelumnya. Ini akan membantu memperlambat, jika tidak benar-benar menghentikan, penyebaran," tutur Menon.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]

(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT