Jumat, 23 Apr 2021 11:35 WIB

Hihh.. Banyak Air Galon Isi Ulang Mengandung Bakteri E Coli, Ini Ciri-cirinya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi Galon Air Mineral Foto: shutterstock
Jakarta -

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 lalu menunjukkan sumber air terkontaminasi bakteri di 10 dari 24 provinsi Indonesia cukup tinggi. Bahkan, kualitas air kini kian memburuk di tengah tingginya kebutuhan masyarakat saat pandemi Corona karena banyak beraktivitas di rumah.

Salah satu yang kerap menjadi sumber air masyarakat adalah air galon isi ulang, tetapi tak semua depot air galon terbukti aman dan layak dikonsumsi. Salah satu riset Universitas Padjajaran menemukan bahwa 50 persen air isi ulang di Kabupaten Bandung terkontaminasi E. coli.

Pasalnya, infeksi bakteri seperti E coli yang terdapat di sumber air bisa memicu infeksi di saluran pencernaan hingga menyebabkan gagal ginjal. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dan Konsultan Gastroenterologi-hepatologi dr Kaka Renaldi, SpPD, KGEH, infeksi karena bakteri ini juga bisa memicu kondisi fatal di beberapa orang yang rentan.

"Infeksi ini kemudian bisa berkembang dan menyebabkan infeksi selaput otak pada bayi dalam kandungannya, hingga keguguran. Sehingga, pemilihan air dengan seksama disarankan kepada seluruh masyarakat untuk mengadopsi hidup bersih dengan mengonsumsi air minum yang berasal dari sumber yang terlindungi," jelasnya dalam diskusi bersama PWI dengan tema 'Peran Media Dalam Mengedukasi Masyarakat Mengenai Perilaku Hidup Bersih Melalui Pemahaman Air Minum Terstandarisasi', Jakarta (20/4/2021).

Lantas bagaimana cara mengetahui air galon isi ulang cukup aman?

Menurut peneliti Depot Air Minum Isi Ulang, Sri Yusniati I Sari dari Universitas Padjadjaran, untuk mengetahui air minum berkualitas penting memperhatikan jarak depot air minum dengan saluran pembuangan air.

"Jika terlalu dekat yakni kurang dari 10 meter, sumber air bisa tercemar oleh limbah rumah tangga, limbah industri dan logam berat. Air dari sumber tersebut juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya, seperti Pseudomonas, Klebsiella, Enterobacter, Salmonella, dan E coli," bebernya dalam kesempatan yang sama.

Ia juga menegaskan agar masyarakat perlu mempertanyakan sertifikasi setiap depot air minum isi ulang untuk mengetahui apakah air tersebut aman dan berkualitas. Sertifikat tersebut umumnya menandakan air yang diproses dalam air galon isi ulang sudah sesuai standar Kementerian Kesehatan RI.

Sementara dr Kaka kembali mengingatkan bahaya penyakit diare yang juga bisa muncul akibat mengonsumsi air yang tidak berkualitas. Menurutnya, diare bahkan menjadi penyebab kematian tertinggi.

"Di Indonesia, kasus penyakit diare terbilang sangat tinggi, yakni lebih dari 7 juta total kasus pada tahun 2019. Pada bayi dan balita, penyakit diare bahkan merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi dengan jumlah kasus lebih dari 1.000 kematian," pungkasnya.



Simak Video "RI Ingin Ubah Pandemi Jadi Endemik, Ini Fase yang Harus Dilalui"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)