Jumat, 23 Apr 2021 21:08 WIB

Euforia Menjerumuskan, 411 Orang di Semarang Kena COVID-19 Usai Divaksin

Angling Adhitya Purbaya - detikHealth
Program vaksinasi COVID-19 di Indonesia terus dilakukan meski di bulan puasa. Diketahui, 11 juta warga Indonesia telah menerima dosis pertama vaksin Corona. Ilsutrasi vaksin COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Semarang -

Dinas Kesehatan Kota Semarang menjelaskan soal kondisi kasus COVID-19 dalam dua minggu terakhir. Disebutkan ada 411 kasus baru setelah mendapat vaksin.

Dalam siaran pers Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam selaku Kepala Dinkes Kota Semarang menyebut memang ada kenaikan angka kasus dua minggu terakhir. Disertakan juga grafik turun-naik kasus Corona tiap minggu.

"Memang benar terjadi kenaikan angka kasus baru pada dua minggu terakhir ini. Dari grafik di atas menunjukan dari rata-rata mingguan pada minggu ke 14 naik 50 menjadi 54 kasus barunya. Ini dirata-rata perminggunya lho ya, kalo harian tetep fluktuatif. Karena itu juga, grafik BOR di rumdin (rumah dinas Wali Kota tempat karantina) dan RS juga mulai naik lagi ini," jelas Hakam dalam siaran pers Dinkes Kota Semarang, Jumat (23/4/2021).

Ia juga menjelaskan sempat ditemukan juga ada total 411 kasus dari orang yang sudah di vaksin baik saat penyuntikan pertama ataupun penyuntikan kedua. Namun belum diketahui berapa yang sudah sembuh saat ini.

"Dalam data kami temukan juga, 267 kasus terkonfirmasi setelah mendapatkan vaksin dosis satu dan 144 yang ditemukan pada penerima vaksin dosis dua. Nah ini mohon dimengerti juga oleh seluruh masyarakat bahwa bukan berarti setelah vaksin jadi kebal virus," ujar Hakam.

"Sekalipun punya kekebalan tapi tetap bisa terpapar jika prokesnya tidak dijalankan. Vaksin ini hanya melindungi kita dari gejala berat jika virus masuk dalam tubuh. Jadi mohon kepada masyarakat untuk tidak euphoria menerima vaksin kemudian prokesnya ditinggal. Harus tetap wajib 5M ditambah dengan vaksin, insyallah proteksinya dobel dan kita terhindar dari COVID-19," imbuhnya.

Dinkes juga menyertakan grafik penerapan protokol kesehatan yang diambil dari sampling yang diakukan Puskesmas setiap hari saat melakukan edukasi ke masyarakat kemudian diakumulasi setiap dua minggu sekali.

Dalam grafik tersebut disebut protokol kesehatan berupa jaga jarak paling rendah persentasenya yaitu 73,7 persen untuk bulan April ini. Kemudian ketaatan memakai masker 74,1 persen dan cuci tangan pakai sabun 76 persen.

"Dari grafik prokes ini juga bisa dilihat ada penurunan persentase prokes pada penilaian jaga jaraknya. Nah ini kalau kita lihat kondisinya sekarang memang mobilitas masyarakat mulai meningkat, apalagi di wilayah-wilayah tengah kota. Sejalan dengan angka kasus perwilayah kecamatan pun kalau dilihat datanya yang diupload di IG DKK harian kan angka kasusnya masih paling banyak di Kecamatan yang padat penduduk dan tinggi mobilitasnya," jelas Hakam.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(alg/up)