Senin, 03 Mei 2021 16:39 WIB

Kata Ahli Farmasi UGM Soal Kalium 'Potas' Sianida dalam Sate Takjil Beracun

Jauh Hari Wawan S - detikHealth
Satreskrim Polres Bantul telah menangkap wanita pengirim takjil beracun yang menewaskan bocah yang memakan takjil tersebut. Begini tampangnya. Takjil sate beracun di Bantul mengandung kalium sianida (Foto: PIUS ERLANGGA)

Akan tetapi, lanjutnya, untuk mengidentifikasi racun sianida bukanlah hal yang gampang. Apalagi jika sianida itu sudah tercampur dengan makanan atau minuman. Sebab, karakteristik sianida tidak berbau. Beda dengan racun yang lain.

"Kalau dibau agak susah, kadang-kadang tidak terdeteksi, tidak seperti pestisida yang lain. Kalau racun-racun yang lain kan berbau tapi kalau yang ini memang tidak berbau, sulit untuk dideteksi," katanya.

"Jadi memang baru terasa kalau dirasakan. Terasa agak pahit, tidak tau itu pahitnya karena apa," tambahnya.

Berkaca dari kasus takjil beracun di Bantul, ia menyoroti mudahnya masyarakat mendapatkan apotas. Padahal, apotas itu pada dasarnya dikhususkan untuk industri.

Untuk itu, ia menyarankan setidaknya pemerintah membuat aturan agar peredaran apotas bisa dibatasi.

"Iya harusnya itu ada surat kalau memang itu hanya untuk industri dan atau memang ada untuk surat tertentu dan ada lembaga atau industri tertentu yang boleh membeli atau mengimpor. Harusnya begitu. Tapi saya ngga tahu kok itu mudah didapatkan di Indonesia," pungkasnya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Banyak Penyandang Disabilitas yang Jadi Korban Hoax Vaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]

(up/up)